Jembatan Kehidupan di Ujung Keterbatasan

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Okebajo.com – Di antara rimbunnya hutan tropis dan deru air sungai yang keruh, terletak Kampung Jengok, sebuah nama yang seolah tersembunyi dari peta kemajuan. Foto ini bukan sekadar pemandangan eksotis, melainkan sebuah kesaksian bisu tentang perjuangan hidup sehari-hari.

Lihatlah jembatan itu. Bukan kokohnya beton baja yang kita kenal, melainkan untaian bambu dan kayu seadanya, dirangkai dengan keringat dan tekad. Inilah urat nadi satu-satunya bagi puluhan bahkan ratusan jiwa di Kampung Jengok, Desa Wae Jare, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Di atas jembatan yang miring dan licin ini, langkah kaki dipertaruhkan. Anak-anak berangkat sekolah dengan seragam yang harus dijaga agar tak terciprat lumpur, warga memikul hasil kebun yang menjadi tumpuan ekonomi, dan di saat genting, orang sakit harus ditandu dengan hati-hati yang bergetar.

Ketika hujan datang dan sungai di bawahnya mengamuk, jembatan ini menjadi garis batas antara kehidupan dan bahaya. Mereka yang ada di seberang akan terisolasi total, terputus dari pasar, fasilitas kesehatan, bahkan dunia luar. Rasa cemas adalah teman setia yang menemani setiap kali langit berubah mendung.

Wajah-wajah yang tampak di foto—pria yang memanggul tas ranselnya, seorang ibu yang mengenakan jilbab merah yang berusaha menjaga keseimbangan—adalah representasi ketangguhan luar biasa. Mereka tidak menyerah pada isolasi. Mereka membangun, memperbaiki, dan bertahan dengan swadaya.

Jembatan bambu itu adalah monumen solidaritas mereka, sebuah teriakan tanpa suara: Kami ada, kami berjuang.
Namun, sampai kapan mereka harus bertaruh nyawa di atas infrastruktur darurat? Keterisolasian bukan hanya menghambat perekonomian, tapi juga merenggut hak dasar mereka atas akses yang aman dan layak.

Kisah Kampung Jengok adalah cerminan keprihatinan akan saudara-saudara kita di pelosok negeri. Ini adalah panggilan bagi kita semua: untuk melihat lebih jauh dari hiruk pikuk kota, dan memastikan bahwa tidak ada lagi langkah kaki yang gemetar saat melintasi sungai demi menggapai impian dan kehidupan yang lebih baik. Mereka butuh lebih dari sekadar bambu—mereka butuh jembatan harapan yang kokoh. *

(Robert Perkasa)

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *