Simfoni Spiritual Bagi Korban Tragedi KM Putri Sakinah

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo | Okebajo.com | Di saat sebagian besar dunia bersiap menyambut Tahun Baru, suasana di lapangan Mapolres Manggarai Barat justru diselimuti keheningan yang magis.

Sore itu, Rabu (31/12/2025), aroma dupa, rontokan bunga, dan bisik doa lintas agama merayap di udara Labuan Bajo. Tidak ada euforia berlebih; yang ada hanyalah ketundukan kepala dan solidaritas tanpa batas.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat memilih menutup lembaran tahun 2025 dengan cara yang paling menyentuh : Doa Bersama. Sebuah simfoni spiritual yang didedikasikan bagi para korban tragedi kapal wisata KM Putri Sakinah dan rentetan bencana alam yang melanda negeri di penghujung tahun.

Melintasi Sekat, Memeluk Kemanusiaan

Di bawah langit senja, para pemuka agama Islam, Katolik, Kristen, dan Hindu berdiri berdampingan. Meski rapalan doa mereka berbeda bahasa, tujuannya satu: memohon kekuatan bagi jiwa-jiwa yang sedang diuji.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menegaskan bahwa peristiwa tenggelamnya KM Putri Sakinah pada Jumat (26/12) lalu bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan laut, melainkan luka kemanusiaan yang harus dipikul bersama.

“Walaupun kita berbeda suku, ras hingga negara, namun secara kemanusiaan kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk turut merasakan duka yang dialami keluarga korban,” ujar AKBP Christian dengan nada rendah penuh empati.

Bagi perwira menengah kelahiran Toraja ini, pergantian tahun seharusnya menjadi momentum untuk mempertebal kepedulian sosial, bukan sekadar seremoni hura-hura.

Perjuangan di Tengah Gelombang

Tragedi ini bermula saat KM Putri Sakinah, kapal motor berukuran 27 GT, tergulung cuaca ekstrem di Selat Padar saat menuju Pulau Komodo. Dari 11 orang yang berada di atas kapal—termasuk enam wisatawan asal Spanyol—tujuh orang selamat.

Hingga fajar 2026 menyingsing, operasi SAR telah memasuki hari ketujuh. Fokus kini tertuju pada tiga orang yang masih hilang ditelan ganasnya perairan Pulau Padar.

“Kami mengerahkan kekuatan maksimal. Doa ini adalah energi tambahan bagi personel di lapangan—Polri, TNI, Basarnas, hingga relawan—agar tetap kuat dalam misi kemanusiaan ini,” tambah Kapolres.

Harapan di Tahun yang Baru

Sesi doa tersebut menjadi simbol kuat bahwa di Labuan Bajo, perbedaan bukanlah penghalang untuk saling merangkul. Ketika dunia melihat Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia, sore itu mereka menunjukkan jati diri sejatinya: sebuah komunitas yang memiliki hati yang besar.

“Semoga tahun 2026 menjadi tahun yang lebih aman dan penuh kedamaian. Kami terus bekerja agar ada kejelasan bagi keluarga yang sedang menunggu dengan penuh harap,” pungkasnya.

Kini, di balik keindahan matahari terbit pertama tahun 2026 di Labuan Bajo, terselip harapan agar laut segera memberikan jawaban, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan yang tak bertepi. *(Robert Perkasa)

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *