PUISI, Okebajo.com – Puisi adalah bahasa hati yang lahir dari kejujuran perasaan. Ia hadir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan suara batin yang ingin didengar, dipahami, dan dirasakan oleh setiap pembacanya. Dalam setiap bait, ada kisah tentang cinta, harapan, luka, kerinduan, hingga mimpi-mimpi yang tumbuh diam-diam dalam perjalanan hidup manusia.
Kumpulan puisi karya Ardelia Fransiska De Chanta, alumni SMP Negeri 3 Pacar ini menjadi bukti bahwa keindahan sastra dapat lahir dari hati seorang anak muda yang penuh imajinasi dan kepekaan rasa. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun menyentuh, Ardelia mampu menghadirkan nuansa emosional yang dekat dengan kehidupan para remaja maupun para pecinta puisi pada umumnya.
Melalui puisi-puisi seperti Laraku Dalam Gita, Mencintaimu, Mawar Merah, Tiap Detik Itu Berharga, hingga Belahan Jiwa, pembaca diajak menyelami dunia batin penulis, tentang cinta yang tulus, harapan yang terus hidup, dan luka yang perlahan belajar berdamai dengan waktu.
Setiap bait terasa seperti bisikan hati yang mengalir lembut, namun meninggalkan makna mendalam bagi siapa saja yang membacanya.
Karya ini bukan hanya sekadar kumpulan puisi, tetapi juga perjalanan perasaan seorang penulis muda dalam memahami kehidupan.
Ada ketulusan, keberanian, dan keindahan kata-kata yang dirangkai dengan penuh penghayatan. Hal inilah yang membuat puisi-puisi Ardelia terasa hidup dan mampu menyentuh sisi emosional pembaca.
Ucapan terima kasih juga patut diberikan kepada M. Hamse selaku editor yang telah membantu menyunting dan merapikan karya ini sehingga dapat hadir lebih indah dan nyaman dinikmati oleh para pembaca.
Semoga kumpulan puisi ini dapat menjadi teman bagi siapa saja yang pernah jatuh cinta, kehilangan, berharap, ataupun sedang mencari makna dalam setiap perjalanan hidupnya. Kiranya setiap bait yang tertulis mampu menghadirkan kehangatan, inspirasi, dan ruang renung bagi para pecinta sastra.
Selamat membaca, menyelami makna, dan menikmati setiap larik yang lahir dari hati.
Salam Sastra.
Laraku Dalam Gita
Adalah saat aku terdiam, bukan dengan tujuan
Melainkan perasaan yang tak bisa kuungkapkan
Diiringi rintik-rintik hujan yang berdatangan
Mengisi hatiku yang kosong tanpa perasaan
Alunan gita mulai bermanja dan bermain
Menariku pada segudang harapan
Mengibur diri dengan kesenangan
Sebetulnya tak ada halangan
Banyak hal yang kuinginkan
Sesuai pada lirik gita yang kutuliskan
Keinginan membawa harapan
Mencintaimu
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku
Aku menyayangimu dengan sepenuh ragaku
Dari aksa aku berdoa membawa namamu
Dalam keyakinanku pada Tuhanku
Kamu berarti dalam hidupku
Jiwaku menyatu dalam ragamu
Inginku peluk erat tubuhmu
Membawamu dalam mimpiku
Kamu begitu sempurna bagiku
Mataku hanya tertuju padamu
Hingga tak ada yang bisa menggantikanmu
Yang dengan mudah menarik perhatianku
Wajahmu bagai sekar di taman
Indah dan selalu menawan
Cintaku kepadamu sebesar nebula
Selalu kusebut namamu dalam doa
Hingga kita menua bersama
Mawar Merah
Elok kulihat mekarmu di taman
Cantik dan anggun
Tajam durimu bermakna
Menguraikan sisa lara
Kucium aroma tiap lembar daunmu
Harum memikat hatiku
Membuatku terpukau hebat dalam kisahmu
Warnamu terang bagai matahari
Merona dan merayu
Hancur diriku melihatmu mengembalikannya
Walau rapuh
Kamu tetap mawarku
Tiap Detik Itu Berharga
Jangan pernah menjadi senja
Jika hanya membawa luka
Jadilah pelangi, yang pergi
Dan akan kembali
Jika tak sanggup menepati
Janganlah menabur benih
Rasa tak akan hilang walau dipaksa
Tapi ‘kan musnah jika terbiasa
Belahan Jiwa
Bolehkah aku mengecup keningmu?
Bisakah aku memegang tanganmu?
Hangatmu menenangkanmu
Hatiku membara
Dibakar api asmara
Hai, jelita yang kucinta
Dengarkan yang kupinta
Jikalau cinta adalah luka
Relaku merangkak membawa mahkota







