LABUAN BAJO, Okebajo.com– Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) senilai lebih dari Rp2 miliar yang dibangun Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di Desa Pacar, Kecamatan Pacar, kini menjadi sorotan. Meski telah selesai dikerjakan dan dinyatakan rampung sejak 2023, manfaat proyek yang dibiayai uang negara itu disebut belum dirasakan secara maksimal oleh masyarakat. Ironisnya, warga mengaku masih kesulitan memperoleh air bersih dan terpaksa kembali menggunakan sumber air lama bahkan membeli air dari penjual keliling.
Proyek yang dikerjakan oleh CV. La Muda Jaya Grup tersebut menghabiskan anggaran sebesar Rp2.063.530.000 yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2022. Paket pekerjaan meliputi pembangunan jaringan perpipaan SPAM, pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau broncaptering, pembangunan sumur dalam terlindungi, serta pemasangan 260 sambungan rumah (SR) bagi masyarakat Desa Pacar.
Pekerjaan itu mulai dilaksanakan pada 21 Juni 2022 dengan pengawasan dari CV. Masterplan Consultan berdasarkan kontrak Nomor: 46/CKSDATR.690/PPK/FIsik.DAK-AMB/Kontrak/VI/2022.
Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun Okebajo.com, meskipun proyek tersebut telah memperoleh Provisional Hand Over (PHO) atau penyerahan pertama hasil pekerjaan dari dinas terkait, kondisi di lapangan justru menimbulkan pertanyaan. Selama dua tahun terakhir, warga mengaku sering mengalami gangguan distribusi air hingga pasokan tidak lagi mengalir ke rumah-rumah mereka.
“Awalnya setelah selesai dikerjakan memang air sempat mengalir lancar. Tapi tidak lama kemudian air tidak pernah keluar lagi sampai sekarang. Kami terpaksa kembali mengambil air di sumber lama. Bahkan ada warga yang harus membeli air dengan harga Rp75 ribu per viber,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius yang seharusnya menjadi perhatian kontraktor maupun pemerintah daerah.
“Kalau air tidak mengalir, harus dicari tahu apa penyebabnya dan segera diperbaiki. Jangan dibiarkan begitu saja. Yang rugi masyarakat. Jangan tunggu viral di media sosial baru turun ke lapangan,” tegasnya.
Warga juga mempertanyakan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat dalam proyek bernilai miliaran rupiah tersebut. Ia menilai hingga saat ini belum terlihat langkah konkret untuk memastikan fasilitas air minum itu dapat kembali berfungsi normal.
Selain itu, ia mengaku memperoleh informasi bahwa pemerintah desa pernah diminta mengambil alih pengelolaan sistem air minum tersebut. Namun, menurutnya, pemerintah Desa Pacar menolak karena tidak ingin menanggung risiko atas proyek yang sejak awal dibangun dengan anggaran besar.
“Pemerintah desa tidak mau terjebak. Kalau nanti ada masalah atau temuan, yang disalahkan pasti desa. Padahal proyek ini dikerjakan kontraktor dengan anggaran miliaran rupiah,” katanya.
Atas kondisi tersebut, warga mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun tangan melakukan audit terhadap keseluruhan pekerjaan proyek.
“Kami berharap APH segera mengaudit proyek ini. Kalau benar-benar diperiksa secara menyeluruh, kami yakin akan ditemukan banyak persoalan,” ujarnya.
Warga tersebut juga melontarkan dugaan bahwa kontraktor pelaksana memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan di Kabupaten Manggarai Barat.
“Kontraktor ini kami duga dikenal sebagai orang dekat Bupati. Karena itu muncul dugaan di masyarakat bahwa perusahaan ini hanya dipakai sebagai nama, sementara ada pihak lain yang sebenarnya berada di belakang proyek tersebut,” katanya.
Informasi lain yang diperoleh media ini menyebutkan bahwa jalur perpipaan proyek melewati lahan milik Gereja Paroki St. Nikolaus Pacar. Bahkan bak penampung utama dibangun tepat di samping kompleks gereja. Ironisnya, akibat tidak berfungsinya sistem distribusi air, pihak gereja dikabarkan harus menggali sumur sendiri untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Laurensius Purnama, ketika dikonfirmasi media ini mengklaim bahwa sistem air minum tersebut sebenarnya pernah berfungsi dan ia juga melempar kesalahan kepada pihak pemerintah Desa Pacar. Ia menyebut bahwa pihaknya sempat menyerahkan kepada Pemerintah Desa Pacar untuk mengelola air tersebut.
“Bukan tidak jalan itu air, kita kan sudah mengharapkan pihak Desa untuk kelola itu air, karena kita sudah serahkan secara administrasi (ada dokumen penyerahannya itu) ke pihak pemerintah desa untuk kelola. Dulu kita sempat pergi cek sekitar satu atau dua tahun lalu dan kita sudah siapkan petugas untuk bantu pengaturan air di sana. Hanya memang informasi terakhir bahwa air itu tidak jalan tapi kita tidak tahu apa persoalannya,” jelas Laurensius saat dikonfirmasi pada Rabu (3/6).
Menurutnya, belakangan pemerintah desa mengembalikan pengelolaan sistem tersebut kepada Dinas karena mengalami kesulitan dalam pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas yang ada.
“Kemarin kita coba identifikasi tapi tidak punya tenaga teknisi. Begitu kemarin pemerintah desa melihat bahwa pengaturan air sudah tidak jelas makanya mereka kembalikan ke kita lagi (Pihak Dinas.red) dan ada dokumen berita acara penyerahan kembali. Penyerahan ini sudah dalam posisi tidak berfungsi, nah seandainya di awal dulu pemerintah desa waktu awal kita serahkan pengelolaanya mereka katakan tidak sanggup untuk kelola tidak apa-apa supaya kita minta bantuan teman-teman operator yang berkompeten untuk mengurus air tersebut. Tetapi dulu karena pemerintah desa siap dan sanggup untuk mengelola ya kita serahkan dan pada akhirnya kan karena dengan teknologi dan sumber daya mereka (pihak desa) tidak cukuplah untuk mengelola air itu, ” jelasnya.
Laurensius menambahkan bahwa pihaknya saat ini masih melakukan identifikasi terhadap penyebab gangguan yang terjadi. Dugaan sementara mengarah pada masalah teknis di bagian pengkabelan, panel kontrol, atau sistem pompa.
“Dengan kondisi yang sekarang ini, kita coba identifikasi belum tahu apa sebenarnya penyebab persoalan itu, apakah di mesin pompanya ataukah di panel. Kemarin kita coba konfirmasi ke teknisi yang tau itu barang, kemungkinan kalau dilihat dari gejalanya itu bermasalah di pengkabelan, sehingga nanti mungkin kami akan turunkan tim teknisi untuk cek sehingga bisa diketahui masalahnya di mana” katanya.
Ia juga menyebut bahwa hingga tahun 2024 sistem tersebut masih beroperasi, meskipun terdapat beberapa titik yang distribusi airnya tidak mampu menjangkau seluruh rumah warga. Menurutnya, pihak dinas tidak menerima laporan resmi terkait persoalan tersebut dari masyarakat.
“Terkait air tidak bisa menjangkau ke beberapa rumah-rumah warga, kami tidak mendapatkan laporan dari warga,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Cipta Karya Sumber Daya Air dan Tata Ruang Kabupaten Manggarai Barat, Feri Kurniadi mengaku bahwa terkait dengan pengelolaan air minum di desa Pacar bahwa pihaknya masih proses untuk penyerahan operasional dilimpahkan ke PDAM.
“Kami masih proses untuk penyerahan Operasional dilimpahkan ke PDAM,” kata Feri
Terkait dengan dugaan kerusakan pada mesin pompa air yang menjadi penyebab, Ia mengklaim bahwa pekan depan tim teknisi datang mengeceknya.
“Pompanya masih baik, Minggu depan tim teknisi datang. Mungkin ada kabel yang korslet. Tunggu teknisi ini baru cek lengkap,” ujarnya.








