Fenomena Langka di Kecamatan Sano Nggoang: Kisah di Balik Kelahiran Anak Kerbau Berkepala Dua

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo, Okebajo.com | Sebuah fenomena alam yang sangat jarang terjadi menggemparkan warga Kampung Pinggong, Desa Golo Ndaring, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Selasa (25/8/2026), seekor kerbau milik Alfonsius Suharmin, seorang petani setempat, melahirkan anak dengan kondisi fisik tak biasa: satu tubuh dengan dua kepala.

Proses persalinan yang berlangsung sulit dan berisiko tinggi ini menyita perhatian dan tenaga para petugas medis veteriner yang berjuang di lapangan.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Perjuangan Medis dan Tindakan Fetotomi

Siprianus Andi, petugas kesehatan hewan yang turun langsung ke tempat kejadian perkara (TKP), mengungkapkan bahwa saat timnya tiba di lokasi, anak kerbau tersebut diperkirakan sudah dalam kondisi meninggal dunia di dalam kandungan. Induk kerbau pun berada dalam kondisi lemah dan kesulitan melahirkan secara normal (distokia).

“Langkah awal kami mencoba menyesuaikan posisi janin dan menyuntikkan hormon perangsang untuk membantu kontraksi. Kami berusaha merogoh serta menariknya secara perlahan, tetapi janin tetap tidak bisa keluar,” ujar Siprianus.

Melihat tidak adanya kemajuan, Siprianus melakukan penelusuran lebih dalam ke dalam saluran reproduksi induk. Kecurigaan akan adanya kondisi kembar atau kelainan anatomi akhirnya terkonfirmasi saat tangannya meraba bagian dalam.

“Dugaan adanya kondisi kembar semakin pasti setelah saya menemukan daun telinga lain yang berbeda. Posisi kepala yang satu ternyata melengkung dan menutupi jalan lahir,” jelasnya.

Menghadapi situasi yang mengancam keselamatan induk kerbau, tindakan medis darurat harus segera diambil. Atas persetujuan dan pertimbangan bersama pemilik ternak, tim kesehatan hewan memutuskan untuk melakukan tindakan fetotomi—yakni pemotongan bagian tubuh janin yang sudah mati guna menyelamatkan sang induk.

“Kami melakukan pemotongan pada bagian leher kepala pertama. Begitu kepala tersebut terpotong, secara alami posisi kepala kembarannya berputar ke posisi normal, hingga akhirnya seluruh tubuh anak kerbau tersebut berhasil dikeluarkan,” tambah Siprianus.

Meski anak kerbau tersebut tidak dapat diselamatkan, penanganan cepat dari petugas kesehatan hewan berhasil menyelamatkan nyawa induk kerbau milik Alfonsius Suharmin. Kejadian langka ini pun menjadi catatan medis sekaligus peristiwa alam yang akan terus dikenang oleh masyarakat setempat. *(Robert Perkasa)

Penjelasan Ilmiah Kesehatan Hewan
(Sumber : Google)

Dari kacamata medis veteriner, fenomena lahirnya anak kerbau dengan satu tubuh dan dua kepala ini dikenal sebagai polycephaly atau bentuk khusus dari conjoined twins (kembar siam) yang disebut dicephaly.

Kondisi ini terjadi akibat kegagalan pembelahan sel telur terbuahi (zigot) yang tidak sempurna pada fase awal perkembangan embrionik. Faktor pemicunya bisa beragam, mulai dari kelainan genetik, gangguan perkembangan sel, hingga faktor lingkungan saat masa kehamilan awal.

Pada kasus dicephaly, organ vital di dalam tubuh—seperti jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan—sering kali saling berbagi atau berkembang tidak proporsional. Ketidaknormalan struktur anatomi inilah yang membuat janin umumnya tidak mampu bertahan hidup dan kerap memicu komplikasi persalinan berat pada induknya.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *