Nisan yang Larut
Kau datang membawa binar kagum di kedua mata,
Namun laut kini mendekapmu selamanya.
Tak ada gundukan tanah yang bisa kami taburi bunga,
Hanya buih putih yang pecah di sela karang-karang tua.
Tak ada nisan batu untuk menuliskan namamu dengan pilu,
Sebab kini namamu abadi di setiap debur rindu.
Pena telah terhenti di atas kertas yang putih,
Tanda kami menyerah pada takdir yang pedih.
Saat mesin kapal pencari mulai mematikan suara,
Doa kami tetap berlayar, mencarimu di relung samudera.
Wahai pengembara dari negeri jauh,
Janganlah merasa asing di dalam laut yang keruh.
Arus ini kini adalah nadimu, dan karang adalah rumahmu,
Labuan Bajo akan selalu menjaga sisa-sisa mimpimu.
Istirahatlah dalam tenang, di kedalaman yang paling sunyi,
Tak ada lagi badai, hanya damai yang menyelimuti.
Kau tidak benar-benar hilang, kau hanya berubah rupa,
Menjadi desir angin, menjadi ombak, menjadi bagian semesta.
Selamat jalan, jiwa yang kini menjadi samudera.






