LABUAN BAJO, Okebajo.com – Di bawah langit Dusun Mejer yang teduh, tangan-tangan cerdas tidak hanya sedang menggali lubang di tanah. Di sela jemari yang berlumur tanah itu, ada harapan yang sedang disemai. Bukan sekadar umbi, melainkan sebuah nilai yang jauh lebih mahal: kedamaian.
Melalui inisiatif Aloysius Juni, peserta Gus Dur School for Peace (GDSP-VI) dari Wahid Foundation, sebuah pemandangan menyejukkan tersaji di Desa Golo Damu, Kecamatan Mbeliling. Sepuluh ribu anakan porang mulai ditanam, membentang dari halaman Masjid Al Hidayah hingga area sekitar Kapela.
Simbol Perjumpaan Lintas Iman
Kegiatan ini menghapus sekat-sekat perbedaan. Orang Muda Katolik (OMK) dan Remaja Masjid (Remas) bahu-membahu, bertukar tawa. Berbagi peluh di satu hamparan tanah yang sama.
Di Dusun Mejer, porang bukan lagi sekadar komoditas pertanian, melainkan simbol perjumpaan lintas iman. Seperti porang yang tumbuh perlahan namun kuat, demikian pula nilai toleransi; ia harus dirawat dengan sabar dan komitmen.
“Menanam porang berarti menanam harapan,” ujar Aloysius Juni dengan tatapan mantap.
Pilihan lokasi penanaman di lingkungan rumah ibadah bukanlah tanpa alasan. Ini adalah pesan kuat bahwa keberagaman di sana adalah anugerah yang harus dijaga bersama. Bukan pemisah yang harus ditakuti.
Dialog yang Membumi
Tak hanya soal menanam porang. Aksi bertajuk Harmony in Action ini juga menjadi ruang dialektika. Di sela-sela waktu istirahat, mereka duduk melingkar dalam dialog terbuka. Mereka berbicara tentang masa depan.
Mereka bertukar ide tentang cara melawan narasi intoleransi. Mereka berbagi pengalaman tentang bagaimana menjaga warisan leluhur. Merawat semangat gotong royong agar tidak luntur tergerus zaman.
Mereka menyadari satu hal penting. Bahwa kedamaian bukanlah tanggung jawab elit, melainkan tugas semua elemen masyarakat, termasuk para petani yang selalu bergumul di sawah dan ladang.
Akar yang Menguatkan
Langkah nyata ini mereka buktikan, bahwa perdamaian paling efektif justru lahir dari tindakan-tindakan sederhana yang “membumi”.
Ketika anakan porang itu mulai bertunas dan akarnya mencengkeram bumi Mejer, di saat yang sama, ikatan persaudaraan antarumat beragama di sana semakin kokoh.
Dusun Mejer kini menjadi cermin kecil bagi Mbeliling, Manggarai Barat, Flores, NTT. Sebuah bukti nyata bahwa dari tanah yang sama, dirawat oleh tangan-tangan yang berbeda keyakinan, dapat tumbuh harmoni yang berbuah manis bagi kebaikan bersama.
Hari ini mereka menanam porang. Esok mereka akan memanen masa depan yang damai.*
Robert Perkasa








