Foto Viral Mengguncang Dunia, Namun Keluarga Korban dan Warga di Desa Liang Deruk Belum Tersentuh Bantuan

Avatar photo
Foto ilustrasi seorang ibu yang ditemukan tertimbun reruntuhan sambil memeluk erat anaknya.
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

MANGGARAI TIMUR, Okebajo.com — Di tengah puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa bumi dahsyat Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, sebuah foto menyayat hati muncul dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Foto itu memperlihatkan seorang ibu yang ditemukan tertimbun reruntuhan sambil memeluk erat anaknya. Dalam kondisi yang memilukan, pelukan terakhir sang ibu menjadi simbol cinta, pengorbanan, dan tragedi kemanusiaan yang tak mampu dibendung kata-kata. Gambar tersebut viral di berbagai platform media sosial, diberitakan banyak media nasional, bahkan beredar luas melalui berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), memantik gelombang simpati dari jutaan orang.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Namun, di balik viralnya foto yang menguras air mata itu, tersimpan kenyataan pahit yang masih dialami warga di lokasi bencana.

Lima hari setelah gempa mengguncang Pulau Flores, warga Desa Liang Deruk dan Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, mengaku masih menunggu bantuan yang belum juga tiba. Padahal kedua desa tersebut termasuk wilayah yang mengalami dampak cukup parah dan hingga kini masih terus diguncang gempa susulan.

Di Kampung Mbujo dan sejumlah titik terdampak lainnya, warga bertahan hidup di bawah tenda-tenda darurat seadanya. Mereka menghadapi malam-malam yang dingin, keterbatasan makanan, kekurangan kebutuhan dasar, serta trauma mendalam akibat kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal.

Ironisnya, foto yang menjadi simbol penderitaan korban gempa Flores itu telah menyentuh hati masyarakat di berbagai negara. Namun bagi keluarga korban dan warga yang masih bertahan di lokasi bencana, simpati yang mengalir di dunia maya belum sepenuhnya berubah menjadi bantuan nyata.

“Sampai sekarang belum ada info dari bapak pemerintah pusat datang ke Kampung Mbujo, Desa Liang Deruk, Kabupaten Manggarai Timur,” tulis akun Facebook @Firman Ridus.

Unggahan tersebut langsung mengundang perhatian publik dan memunculkan pertanyaan besar mengenai distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang masih sulit dijangkau.

Keresahan serupa juga disampaikan akun Facebook @Andi Darman melalui unggahan yang turut membagikan foto viral tersebut.

“Jangan hanya foto yang viral, peduli juga sama korban.”

Dalam tulisannya, ia mengingatkan bahwa di balik foto yang telah dilihat jutaan orang itu terdapat keluarga dan masyarakat yang hingga kini masih berjuang bertahan hidup.

“Foto ini mungkin sudah dilihat ribuan bahkan jutaan orang. Banyak yang terharu melihat seorang ibu yang dalam detik-detik terakhir hidupnya masih memeluk dan melindungi anaknya,” tulisnya.

Namun ia mengajak publik untuk melihat lebih jauh dari sekadar rasa haru.

“Ini bukan cerita dari tempat yang jauh. Ini terjadi di Kampung Mbujo dan Nempong, Desa Liang Deruk, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur,” lanjutnya.

Menurutnya, kisah tragis seorang ibu bersama dua anaknya yang menjadi korban gempa telah menjadi perhatian nasional. Tetapi setelah sorotan kamera dan pemberitaan berlalu, warga masih mempertanyakan kapan bantuan benar-benar tiba di lokasi terdampak.

“Saya salah satu warga dari daerah ini menerima laporan dari warga bahwa bantuan belum sampai ke titik lokasi kejadian di Kampung Mbujo,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut kemudian memunculkan harapan agar pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan informasi secara terbuka mengenai distribusi bantuan yang telah dilakukan, termasuk jenis bantuan, waktu penyaluran, dan wilayah yang telah dijangkau.

Warga berharap tidak ada lagi daerah yang terlewat dalam proses penanganan bencana, terutama desa-desa yang masih terisolasi akibat kerusakan infrastruktur dan medan yang sulit dilalui.

“Kalau memang sudah ada bantuan, kami berharap pemerintah menyampaikan secara terbuka bantuan apa yang sudah disalurkan, kapan disalurkan, dan sampai di mana. Tetapi kalau memang belum sampai, jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama. Karena bencana tidak berhenti ketika berita berhenti menjadi viral,” tegas Andi Darman.

Saat ini, kebutuhan mendesak para pengungsi meliputi makanan siap saji, air bersih, selimut, terpal, perlengkapan bayi, obat-obatan, dan layanan trauma healing bagi anak-anak maupun keluarga korban.

Di tengah perhatian besar yang lahir dari foto viral tersebut, warga Liang Deruk dan Nampar Tabang hanya berharap satu hal: agar simpati yang mengalir dari berbagai penjuru dunia tidak berhenti sebagai tayangan di layar telepon genggam, melainkan hadir dalam bentuk bantuan nyata yang mampu meringankan penderitaan mereka.

Sebab bagi para korban yang masih bertahan di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, harapan bukanlah jumlah orang yang membagikan foto mereka, melainkan tangan-tangan yang datang membawa pertolongan.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *