Demi Warga Terisolasi, 5 Dus Biskuit “Nekat” Menyeberangi Laut Flores

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Ketika jalan darat tak lagi menjadi pilihan, laut menjadi jalan harapan. Demi memastikan warga terdampak gempa bumi di wilayah pesisir terisolasi tetap mendapatkan bantuan, tim gabungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) rela menembus perairan Flores menuju Dusun Pasir Panjang, Desa Pontianak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (5/9/2026).

Misi kemanusiaan tersebut dilakukan untuk menjangkau masyarakat yang terputus dari akses darat akibat kondisi geografis dan medan yang sulit. Bantuan logistik dibawa menggunakan armada kepolisian melalui jalur laut setelah akses kendaraan menuju wilayah tersebut tidak memungkinkan.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Sebanyak 23 personel gabungan dikerahkan dalam operasi kemanusiaan tersebut. Mereka terdiri atas personel Satuan Polairud Polres Manggarai Barat, Direktorat Polairud Polda NTT, serta personel Korpolairud Baharkam Mabes Polri dari KP Bima 7014 dan KP Kasturi 6002.

Kasat Polairud Polres Manggarai Barat, IPTU Leonardo Marpaung, S.IP., mengatakan pendistribusian bantuan tersebut merupakan bentuk komitmen Polri untuk memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pesisir terpencil.

“Pergeseran bantuan kami fokuskan ke wilayah pesisir Pasir Panjang, Desa Pontianak. Mengingat akses darat menuju lokasi sangat terbatas dan tidak bisa dilalui kendaraan, kami memanfaatkan armada perairan Polri agar bantuan kebutuhan dasar masyarakat dapat tiba secara cepat, aman, dan tepat sasaran,” ujar IPTU Leonardo Marpaung saat dikonfirmasi, Minggu (6/9/2026) malam.

Dusun Pasir Panjang merupakan salah satu wilayah di Desa Pontianak yang menghadapi persoalan akses cukup berat. Dari pusat Kabupaten Manggarai Barat, wilayah tersebut berjarak sekitar 140 kilometer melalui jalur darat dengan medan terjal dan kawasan hutan lebat.

Kondisi medan membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat menjangkau lokasi secara optimal. Dalam situasi pascabencana, keterbatasan akses tersebut tentu menjadi persoalan serius karena kebutuhan pangan dan perlengkapan dasar masyarakat harus tetap dipenuhi.

Jalur laut akhirnya menjadi pilihan paling memungkinkan untuk mempercepat pengiriman bantuan.

Tim gabungan berangkat dari Dermaga Marina Waterfront Labuan Bajo menggunakan Kapal Patroli (KP) Padar 3018 milik Ditpolairud Polda NTT sebagai kapal induk. Perjalanan tersebut turut didukung satu unit armada Rigid Inflatable Boat (RIB) 03.

Setelah menempuh perjalanan laut sekitar dua jam, KP Padar 3018 akhirnya tiba di perairan Pasir Panjang.

Namun, perjuangan belum selesai.

Tidak tersedianya dermaga atau fasilitas pelabuhan yang memadai untuk kapal berukuran besar membuat proses penurunan bantuan tidak dapat dilakukan langsung dari kapal ke daratan.

Tim pun harus melakukan transshipment, yakni memindahkan muatan logistik dari kapal patroli ke perahu-perahu nelayan setempat dan armada RIB di tengah laut.

Dari sana, bantuan kemudian dibawa menuju bibir pantai untuk diserahkan kepada masyarakat.

“Mengingat terbatasnya infrastruktur pelabuhan untuk penambatan kapal besar, pemindahan bantuan dari kapal patroli ke perahu nelayan setempat terpaksa kami lakukan langsung di tengah laut. Kerja sama dengan nelayan lokal sangat membantu kelancaran evakuasi logistik ini,” jelas IPTU Leonardo.

Sesampainya di daratan, bantuan logistik diserahkan secara simbolis kepada perwakilan tokoh masyarakat Dusun Pasir Panjang.

Selanjutnya, bantuan tersebut didistribusikan secara adil dan merata kepada Kepala Keluarga (KK) yang terdampak bencana.

Logistik yang dibawa bukan sekadar bantuan biasa. Di tengah kondisi pascagempa dan keterbatasan akses, setiap karung beras, makanan, selimut hingga pakaian memiliki arti penting bagi warga.

Bantuan tersebut terdiri atas 60 karung beras SPHP, 20 dus mie instan, dan 5 dus biskuit Roma Malkist.

Untuk kebutuhan tidur dan sanitasi, tim membawa 1 bal selimut, 1 bal handuk, serta 10 dus tisu kering Jolly.

Sementara untuk kebutuhan pakaian, bantuan terdiri atas 210 potong pakaian anak laki-laki, 130 potong daster dan baju wanita, serta 100 potong sarung dewasa.

“Kendati bantuan ini masih terbatas, kami berharap dapat meringankan beban dan memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak gempa bumi,” tutur perwira yang akrab disapa Pak Leo tersebut.

Bagi masyarakat Dusun Pasir Panjang, kedatangan tim gabungan Polri bukan hanya membawa bahan pangan dan pakaian. Kehadiran mereka juga menjadi pesan bahwa warga di wilayah terpencil tidak dilupakan dalam situasi bencana.

Perahu-perahu yang bergerak dari tengah laut menuju pantai membawa logistik sekaligus menghadirkan rasa harapan bagi masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan pasokan.

Salah seorang tokoh masyarakat Dusun Pasir Panjang, Jemma, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian kepolisian.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian bapak-bapak polisi yang bersedia datang jauh-jauh melalui jalur laut membawa bantuan ini. Logistik berupa beras, makanan, hingga pakaian ini sangat berarti bagi kami yang sedang kesulitan akibat dampak gempa,” ungkap Jemma.

Polres Manggarai Barat memastikan pendistribusian bantuan tersebut bukan menjadi langkah terakhir.

Kepolisian akan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan Kecamatan Boleng untuk memantau kondisi masyarakat, terutama ketersediaan bahan pangan serta kebutuhan dasar lainnya.

Pemantauan juga akan dilakukan terhadap kondisi psikososial masyarakat yang masih menghadapi dampak pascagempa.

Selain itu, armada perairan Polri tetap disiagakan untuk mengantisipasi kebutuhan distribusi bantuan berikutnya apabila kondisi di lapangan kembali membutuhkan dukungan.

“Kami berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat. Selain itu, armada perairan tetap kami siagakan apabila sewaktu-waktu diperlukan pendistribusian bantuan logistik susulan,” pungkas IPTU Leonardo.

Perjalanan menuju Pasir Panjang mungkin harus melewati laut, gelombang, dan keterbatasan fasilitas. Namun, bagi warga yang sedang berjuang bangkit dari bencana, kehadiran dan bantuan yang tiba di tengah keterisolasian menjadi bukti bahwa jarak dan sulitnya medan bukan alasan untuk berhenti menghadirkan kemanusiaan.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *