Empat Hari Tanpa Henti, Srikandi Bhayangkara Kemas 35 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Flores

Avatar photo
Empat Hari Tanpa Henti, Srikandi Bhayangkara Kemas 35 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Flores
Polisi Wanita (Polwan) Polres Manggarai Barat bersama personel Brimob berjibaku menuntaskan satu misi: memastikan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Pulau Flores segera tiba di tangan mereka yang membutuhkan.
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Suara kardus yang bergesekan terdengar bersahut-sahutan. Lakban ditarik kuat, dipotong, lalu ditempel kembali. Di antara tumpukan beras, minyak goreng, gula, mi instan dan susu, langkah kaki puluhan perempuan berseragam polisi terus bergerak tanpa mengenal jeda.

Di Aula Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda NTT di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, suasana itu berlangsung selama empat hari penuh.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Sejak Kamis (20/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026), mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WITA, puluhan Polisi Wanita (Polwan) Polres Manggarai Barat bersama personel Brimob berjibaku menuntaskan satu misi: memastikan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Pulau Flores segera tiba di tangan mereka yang membutuhkan.

Bukan pekerjaan ringan.

Selama belasan jam setiap hari, tangan-tangan mereka tak berhenti mengangkat, menimbang, menyusun, mengemas, hingga memastikan setiap paket tertutup rapat dan aman untuk perjalanan panjang menuju wilayah terdampak.

Hasilnya pun tak main-main.

Sebanyak 3.500 paket logistik dengan total bobot mencapai 35 ton bantuan dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, M.Si., berhasil dirampungkan.

Pada Senin (24/8/2026) pagi, sebanyak 10 truk logistik diberangkatkan dari Labuan Bajo menuju lima kabupaten terdampak gempa bumi di Pulau Flores.

Namun, di balik angka 35 ton dan ribuan paket bantuan itu, ada cerita tentang pengorbanan para perempuan yang selama empat hari memilih menunda waktu bersama keluarga demi membantu saudara sebangsa yang sedang tertimpa bencana.

Meninggalkan Anak, Memilih Bertahan di Aula

Bagi sebagian Polwan, tugas kemanusiaan tersebut bukan sekadar menjalankan perintah kedinasan.

Ada hati yang harus ditinggalkan di rumah.

Ada anak-anak yang menunggu kepulangan ibu mereka.

Beberapa personel bahkan harus meninggalkan anak balita sejak pagi hingga larut malam. Ironisnya, sebagian dari mereka juga merupakan warga yang ikut merasakan dampak gempa bumi Flores yang mengguncang wilayah tersebut.

Namun, mereka tetap bertahan.

Di tengah padatnya pekerjaan dan tubuh yang mulai kelelahan, sejumlah Polwan terlihat mencuri waktu beberapa menit untuk beristirahat. Mereka merebahkan tubuh di atas tumpukan kardus bekas mi instan, sekadar mengendurkan otot sebelum kembali berdiri dan melanjutkan pekerjaan.

Tidak ada kasur empuk. Tidak ada waktu istirahat panjang.

Yang ada hanya kardus, lantai aula, dan semangat untuk menyelesaikan ribuan paket bantuan.

Brigpol Maria Faustina Pipa, S.H., salah satu personel Polwan Polres Manggarai Barat, mengaku pergulatan batin sempat muncul ketika harus meninggalkan anak balitanya selama berhari-hari.

“Tentu ada rasa berat ketika harus meninggalkan anak balita di rumah dari pagi hingga larut malam selama empat hari berturut-turut,” ujar Brigpol Faustin saat merayakan Hari Ulang Tahun Polwan ke-78 bersama korban gempa di Pulau Kukusan, Selasa (1/9/2026) pagi.

Namun, rasa berat itu perlahan terhapus ketika dirinya membayangkan kondisi warga yang masih bertahan di posko pengungsian.

“Begitu membayangkan saudara-saudara kita di posko pengungsian yang sangat membutuhkan makanan segar serta asupan nutrisi untuk bayi mereka, rasa lelah itu seketika sirna. Kami tahu ada harapan yang sedang kami rakit,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kalimat itu seolah menggambarkan seluruh perjuangan para Polwan yang bekerja di aula tersebut.

Mereka bukan hanya sedang mengemas sembako.

Mereka sedang mengemas harapan.

Setiap Kardus Harus Sampai dalam Kondisi Terbaik

Bagi Brigpol Faustin, setiap potongan lakban yang ditempel pada kardus memiliki arti.

Setiap tali yang diikat adalah bagian dari tanggung jawab agar bantuan yang dikirim dari Labuan Bajo dapat diterima warga dalam kondisi baik.

“Kami ingin memastikan seluruh paket ini terkemas rapi, bersih, higienis, dan cepat sampai ke tangan warga yang membutuhkan. Tidak boleh ada satu pun bantuan yang rusak saat diterima pengungsi,” tegasnya.

Karena itu, proses pengemasan tidak dilakukan secara asal.

Setiap bahan pangan diperiksa sebelum dimasukkan ke dalam paket. Barang-barang kemudian disusun sedemikian rupa agar aman selama perjalanan menggunakan jalur darat menuju sejumlah wilayah terdampak.

Bukan Sekadar Sembako, Ada Nutrisi untuk Ibu dan Anak

Bantuan yang dikirim Kapolri tersebut juga secara khusus memperhatikan kebutuhan kelompok rentan di lokasi pengungsian.

Bayi, balita, ibu hamil dan ibu menyusui menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus.

Dari total 35 ton bantuan, terdapat 17,5 ton beras premium, 3.500 liter minyak goreng, 3,5 ton gula pasir, 17.500 bungkus mi instan, 7.000 biskuit, serta berbagai bumbu dapur pendukung.

Tidak hanya itu, bantuan juga dilengkapi 3.500 dus susu untuk ibu hamil serta 3.500 dus susu khusus bayi dan balita.

Kehadiran susu bagi kelompok rentan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kebutuhan gizi masyarakat yang masih berada di tengah situasi darurat bencana.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., mengatakan percepatan penyiapan logistik tersebut merupakan bagian dari instruksi pimpinan Polri untuk merespons kondisi tanggap darurat gempa bumi di Flores.

“Bantuan sebanyak 35 ton dari Bapak Kapolri ini kami fokuskan untuk menjangkau warga terdampak di lima wilayah hukum Polres jajaran. Sinergi antara Polwan dan Brimob menjadi kunci utama sehingga ribuan paket sembako ini dapat siap didistribusikan tepat waktu,” ujar AKBP Christian.

Menurutnya, proses pemeriksaan dilakukan secara ketat sebelum seluruh bantuan dimasukkan ke dalam armada pengangkut.

“Kami melakukan quality control yang sangat ketat pada setiap bahan pangan sebelum dibungkus. Penambahan susu ibu hamil dan balita merupakan perhatian khusus Bapak Kapolri agar kesehatan gizi anak-anak serta ibu di lokasi pengungsian tetap terjaga secara optimal,” katanya.

10 Truk Menembus Jalur Trans-Flores

Setelah empat hari berjibaku di aula, perjuangan para Polwan dan personel Brimob memasuki tahap berikutnya.

Sepuluh truk yang membawa ribuan paket bantuan diberangkatkan dari Labuan Bajo untuk menempuh perjalanan darat menuju lima kabupaten sasaran.

Rute distribusi meliputi Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, hingga Sikka.

Jalur Trans-Flores menjadi saksi perjalanan bantuan tersebut.

Setibanya di Polres tujuan, bantuan kemudian diserahterimakan kepada Satuan Tugas (Satgas) Posko Bencana setempat untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga terdampak.

Distribusi dilakukan secara by name by address, sehingga bantuan diharapkan dapat menjangkau langsung tenda-tenda pengungsian maupun pemukiman warga yang membutuhkan.

Perjalanan bantuan itu sekaligus menutup satu rangkaian panjang kerja kemanusiaan yang dimulai dari sebuah aula di Labuan Bajo.

Dari Aula Sederhana, Harapan Dikirim ke Penjuru Flores

Empat hari mungkin terdengar singkat.

Namun, bagi para Polwan yang menjalani belasan jam kerja setiap hari, empat hari itu penuh dengan peluh, kerinduan kepada keluarga, rasa lelah, sekaligus kebanggaan.

Ada yang meninggalkan anak balita.

Ada yang rumahnya ikut terdampak gempa.

Ada yang harus beristirahat di atas kardus.

Tetapi mereka tetap memilih bertahan.

Sebab di setiap kardus yang mereka tutup, ada kebutuhan warga.

Di setiap paket yang mereka angkat, ada keluarga yang sedang menunggu.

Dan di setiap truk yang meninggalkan Labuan Bajo, ada harapan agar bantuan segera tiba di tengah masyarakat yang masih berjuang bangkit dari bencana.

Bantuan itu akhirnya bergerak menembus jalur Trans-Flores.

Dari Labuan Bajo menuju lima kabupaten.

Dari tangan para Srikandi Bhayangkara, menuju tangan warga yang sedang membutuhkan.

Bukan sekadar 35 ton logistik yang dikirim. Tetapi juga pesan bahwa di tengah bencana, mereka tidak sendirian.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *