Labuan Bajo | Okebajo.com – Infrastruktur jalan yang seharusnya menjadi nadi kemajuan ekonomi warga di Kecamatan Mbeliling kini rusak parah. Titik kerusakan terjadi di antara Kampung Waemasa dan Mejer, Desa Golo Damu. Ruas jalan kabupaten menghubungkan Dangka Pat Ndole (Jalan Trans Flores) hingga Noa ini tak lagi mulus.
Infrastruktur jalan senilai sembilan miliar rupiah itu ambruk, tergerus air hujan, dan menyisakan pemandangan yang memprihatinkan. Padahal, ingatan warga masih segar saat jalan ini dikerjakan pada tahun 2023 silam. Kala itu, harapan membumbung tinggi seiring dengan mengucurnya dana fantastis senilai Rp9.073.897.000 dari Dana Alokasi Khusus (DAK)
Berdasarkan data teknis, proyek peningkatan infrastruktur jalan Hot Rollet Sheet (hotmix) ini membentang sepanjang 9 kilometer. Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana Flores Konstruksindo Utama di bawah pengawasan konsultan supervisi CV. Sumba Satu Grup, dengan nomor kontrak SDABMBK.600.1.7/Rekon/421/IV/2023 tertanggal 11 April 2023.
Namun, belum genap dua tahun dinikmati sepenuhnya, “urat nadi” senilai 9 miliar rupiah tersebut kini sudah rusak parah. Curah hujan yang tinggi perlahan mengikis pondasi jalan, menyebabkan badan jalan patah dan ambruk di beberapa titik strategis.
Ekstra hati-hati
Kini, setiap pengendara yang melintas harus memiliki nyali ekstra. Kendaraan roda dua dan roda empat memang masih bisa lewat, namun dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Ban kendaraan harus merayap perlahan di sisi jalan yang tersisa, menghindari lubang menganga dan patahan beton yang tajam.
“Harus ekstra hati-hati, apalagi kalau hujan. Salah sedikit bisa terperosok,” keluh Marsel Lukman salah satu warga yang melintas.
Kondisi ini tentu menjadi ironi, mengingat jalan tersebut diproyeksikan untuk mempermudah aksesibilitas dan mempercepat pergerakan logistik barang dan warga di Kecamatan Mbeliling.
Menanti Solusi dan Tanggung Jawab
Kerusakan jalan di Desa Golo Damu ini bukan sekadar masalah teknis, tapi juga soal keberlanjutan investasi dan mobilitas publik.
Masyarakat kini bertanya-tanya: sejauh mana ketahanan infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar tersebut direncanakan? Apakah faktor drainase dan topografi tanah yang labil sudah diperhitungkan dengan matang oleh kontraktor dan konsultan supervisi saat itu?
Hingga kini, warga Ndole, Wae Masa, Mejer hingga Noa masih menanti sentuhan perbaikan. Harapannya sederhana; mereka ingin jalan yang dibangun dengan uang negara tersebut benar-benar menjadi infrastruktur yang tangguh, bukan jalan yang hanya manis di awal namun “lelah” dan ambruk sebelum waktunya. *
(Robert Perkasa)








