Dari Jalanan Ke Parlemen, Kini Menuju Panggung Kekuasaan: Ikhtiar Marten Mitar Menata Manggarai Barat

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Di sebuah kedai kopi di sudut Labuan Bajo, kepulan asap rokok beradu dengan riuh rendah diskusi tentang masa depan Manggarai Barat. Di tengah lingkaran itu, duduk seorang pria dengan sorot mata tajam namun ramah. Namanya Marten Mitar. Bagi sebagian besar masyarakat, nama ini bukan nama baru. Ia adalah representasi dari suara-suara yang selama ini berteriak lantang di jalanan, membela hak-hak masyarakat adat atau sedang mengkritisi kebijakan publik yang timpang di parlemen.

​Namun hari ini, ada yang berbeda dari sang politisi. Marten tidak sedang menyalakan mikrofo di ruang parlemen menguliti kebijakan daerah.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Ia kini memantapkan tekad membatinkan niat untuk langkah besar ke depan.

Ini adalah transisi besar dari aktivis jalanan, ruang parlemen dan sekarang sedang ‘mengintip’ ke pusat kekuasaan.

​Bagi Marten, keputusan mengincar ke tuas kekuasan di daerah super premium adalah kelanjutan perjuangan. Selama bertahun-tahun menjadi aktivis, kini menjadi legislator, ia menyadari adanya keterbatasan mendasar dari sebuah gerakan moral.

​”Berteriak dari luar itu penting untuk mengontrol kekuasaan. Tapi untuk mengubah regulasi, mengalokasikan anggaran yang adil, dan mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat kecil, kita harus berada di dalam ruangan tempat keputusan itu dibuat. Dan, dalam konteks daerah, bobot kekuasan terbesar ada di executive heavy,” ujar Marten dengan nada tenang namun tegas.

​Rekam Jejak: Modal Sosial yang Mengakar

​Berbeda dengan politisi konvensional yang kerap muncul hanya saat musim pemilu tiba, Marten Mitar membawa modal sosial yang dipupuk lewat keringat dan advokasi bertahun-tahun. Rekam jejaknya di dunia aktivisme adalah lembaran-lembaran pembelaan terhadap kaum yang terpinggirkan adalah modal yang membetuk karekter beliau.

​Hal inilah yang membuat pencalonannya mendapat respons emosional dari akar rumput. Bagi mereka, Marten adalah “anak kandung rakyat” yang dikirim untuk merebut ruang pembuat kebijakan.

Menghadapi Tantangan Gajah

​Tentu saja, jalan menuju kursi nomor satu di Manggarai Barat tidak akan bertabur bunga bagi seorang mantan aktivis. Marten harus berhadapan dengan kekuatan modal besar dan oligarki politik yang sudah lama mengakar. Seringkali, politik uang menjadi hantu yang merusak rasionalitas pemilih.

​Namun, Marten Mitar menolak untuk gentar. Senjatanya adalah konsistensi dan kedekatan emosional dengan rakyat.
​”Politik biaya tinggi itu ada karena politisi membeli suara rakyat seolah itu barang dagangan. Kami menawarkan kontrak sosial, menawarkan komitmen. Jika rakyat ingin perubahan nasib, mereka tahu siapa yang berdiri bersama mereka saat mereka susah,” pungkasnya optimis, seraya menatap matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat pelabuhan Labuan Bajo.

​Langkah Marten Mitar adalah sebuah eksperimen politik yang menarik di NTT. Apakah seorang aktivis tulen mampu meruntuhkan dominasi politik elitis dan membawa fajar baru bagi Manggarai Barat? Waktu dan nurani rakyat yang akan menjawabnya di bilik suara nanti.

*Max J

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *