Okebajo.com – Senin, 4 Agustus 2026, matahari pagi menghangatkan alam Desa Wisata Wae Lolos, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di antara rindangnya dedaunan dan bisik angin pegunungan, tampak dua sosok perempuan melangkah perlahan. Salah satunya adalah Mama Magda, seorang ibu lansia berusia 79 tahun yang datang jauh-jauh dari Belanda bersama anak sulungnya, Irene (56).
Tiba di Labuan Bajo pada Minggu, 3 Agustus 2026, mereka memilih memanjakan jiwa dengan bertandang ke Wae Lolos dua hari kemudian, Selasa, 4 Agustus. Bagi mereka, Flores bukanlah sekadar persinggahan transit.
“Masa liburan ini, kami hanya memilih Labuan Bajo sebagai destinasi wisata,” tutur Irene lembut.
Sebagai pendamping sekaligus pengelola, jujur ada keraguan yang sempat membisik di dada saya saat pertama kali melihat sosok Mama Magda keluar dari mobil.
Perjalanan menuju Air Terjun Cunca Plias bukanlah trek yang mudah, harus menempuh jarak sekitar 800 meter dari Tourist Information Center menyusuri jalan setapak yang menurun. Bukan hanya saya, tatapan ragu juga datang dari beberapa wisatawan dan warga yang berpapasan di sepanjang jalan. Apakah seorang ibu berusia hampir delapan dekade sanggup menaklukkannya?
Namun, Mama Magda membungkam semua prasangka itu tanpa kata-kata.
Berbekal sabuk penyangga punggung dan sebuah tongkat kayu sederhana di genggaman tangannya, ia mulai melangkah. Lambat tapi pasti. Tertatih-tatih namun penuh tekad yang membaja. Selangkah demi selangkah, ia meretas jarak dengan senyum yang tak pernah pudar.
Di tengah perjalanan, kami menyempatkan singgah di sebuah kantin bambu milik warga setempat. Di sana, Mama Magda duduk melepas lelah sembari menikmati buah markisa dan sirsak segar yang baru dipetik. Kesegaran buah lokal itu seolah menyuntikkan energi baru ke dalam tubuh cantiknya yang mulai digerogoti usia.
Rasa lelah itu terbayar tuntas ketika gemuruh Air Terjun Cunca Plias 1 akhirnya menyapa kedatangan mereka. Saat pandangannya menatap bulir-bulir air yang jatuh menembus celah tebing hijau, wajah Mama Magda berbinar haru. Hampir satu jam ia bergeming di sana, meresapi kesejukan air dan kedamaian alam Wae Lolos yang mengusap lembut jiwanya.
Saya sempat meninggalkan Mama Magda sebentar untuk menemani Irene mengambil foto di spot Kolam di Atas Awan. Ketika kami kembali, Mama Magda masih setia menikmati momen bahagianya.
Saat melangkah pulang, energi Mama Magda justru terasa kian membara. Di sepanjang jalan menanjak menuju titik awal, ia menoleh ke arah saya dan membisikkan sebuah kalimat murni yang menghujam sanubari:
“Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan…”
Bagi kami di Pokdarwis Cunca Plias, kehadiran Mama Magda adalah sebuah catatan sejarah yang sangat istimewa. Selama tiga tahun kami mengelola destinasi wisata ini, Mama Magda adalah wisatawan tertua berusia 79 tahun pertama yang menjejakkan kaki di Cunca Plias.
Dan bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman pertama mendampingi seorang tamu dengan kondisi fisik yang membutuhkan perjuangan luar biasa.
Dada saya bergemuruh oleh rasa haru yang membuncah. Melihat Mama Magda dan Irene mengukir kenangan indah di tempat ini, lalu pulang dengan rasa nyaman dan senyum puas, adalah kebahagiaan tertinggi bagi seorang pengelola desa wisata. Pengalaman otentik di sisa usianya ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah warisan kenangan abadi.
“Pengalaman hari ini di sini menjadi cerita indah untuk cucu saya,” ungkap Mama Magda tulus sebelum berpisah.
Saya sangat yakin, petualangan ajaib di Wae Lolos ini akan terus bernapas, menjadi kisah hangat yang diceritakan kembali di meja makan keluarga mereka jauh di Belanda sana.
Terima kasih, Mama Magda. Spirit dan nasihatmu telah menguatkan saya untuk tidak pernah berhenti berjalan, seberat apa pun jalan yang harus ditempuh. (Robert Perkasa, Ketua Pokdarwis Cunca Plias)












