LABUAN BAJO, Okebajo.com — Jalan itu tidak bersahabat. Terjal, berkelok, dan dipenuhi tanjakan yang seolah menguji setiap kendaraan yang melintas. Debu beterbangan mengikuti putaran roda, sementara di depan terbentang perjalanan panjang menuju wilayah terpencil yang jauh dari fasilitas kesehatan.
Namun bagi tim relawan kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, medan sulit bukan alasan untuk berhenti.
Di dalam sebuah mobil operasional promosi kesehatan, tersimpan obat-obatan, perlengkapan medis, dan harapan bagi warga terdampak gempa bumi yang masih bertahan di pelosok. Tujuan mereka hari itu adalah Kampung Lewur, Kecamatan Ndoso, salah satu wilayah yang membutuhkan layanan kesehatan pascabencana.
Sejak sebelum masa tanggap darurat resmi berakhir, tim kesehatan terus bergerak dari satu lokasi terdampak ke lokasi lainnya. Mereka menyusuri jalan-jalan yang sulit dijangkau demi memastikan tidak ada warga yang terabaikan.
Perjalanan menuju Lewur bukanlah perjalanan biasa.
Tanjakan demi tanjakan harus ditaklukkan. Mobil melaju perlahan, seakan meraba jalan yang penuh tantangan. Sesekali mesin meraung keras, berjuang mengangkat beban kendaraan yang membawa perlengkapan pelayanan kesehatan.
Hingga akhirnya, di sebuah tanjakan terjal, kendaraan itu menyerah.
Eda, sang pengemudi, berusaha mempertahankan laju mobil. Pedal gas diinjak dalam-dalam. Mesin meraung keras, memecah kesunyian perbukitan. Roda berputar cepat, namun kendaraan tak bergerak maju.
Mesin terus bekerja keras.
Roda terus berputar.
Tetapi mobil tetap tertahan.
Stagnan.
Di hadapan mereka, tanjakan seolah menjadi tembok yang menghalangi perjalanan.
Tak ada pilihan selain mencari cara agar perjalanan bisa dilanjutkan. Sebab di ujung jalan sana ada masyarakat yang sedang menunggu pelayanan kesehatan.
Satu per satu anggota tim turun dari kendaraan.
Di antara mereka tampak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, drh. Theresia P. Asmon.
Saat itu tidak ada sekat antara pimpinan dan staf. Tidak ada kursi jabatan. Tidak ada perintah dari kejauhan.
Theresia berdiri sejajar dengan anggota tim lainnya di belakang kendaraan yang mogok di tanjakan. Mereka bersiap mendorong bersama.
Sementara beberapa staf bergegas mencari batu untuk menahan roda agar kendaraan tidak meluncur mundur. Batu-batu di pinggir jalan sulit ditemukan. Akhirnya mereka meminjam tumpukan batu milik warga yang disiapkan sebagai bahan bangunan rumah.
Dorongan pertama dilakukan.
Mobil bergerak beberapa senti.
Lalu berhenti lagi.
Mereka kembali mengambil posisi.
Kaki menapak di jalan yang tidak rata. Telapak tangan menempel di bodi belakang kendaraan. Tubuh condong ke depan. Nafas mulai memburu.
“Mulai… doroooong!”
Seruan itu disambut tenaga yang dikerahkan bersama-sama.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Mobil mulai bergerak.
Tanjakan yang semula menjadi penghalang akhirnya berhasil ditaklukkan. Kendaraan kembali melaju, dan perjalanan menuju lokasi pelayanan kesehatan pun berlanjut.
Bagi sebagian orang, peristiwa itu mungkin hanya terlihat sebagai kendaraan yang mengalami kesulitan di jalan.
Namun bagi warga yang menunggu kedatangan tenaga kesehatan di kampung terpencil, momen tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.
Di dalam kendaraan itu terdapat obat-obatan yang harus sampai kepada masyarakat. Ada tenaga kesehatan yang harus hadir memberikan pelayanan. Ada warga yang menunggu pemeriksaan kesehatan. Dan ada harapan yang tidak boleh terlambat tiba.
Sebab gempa bumi tidak hanya merusak bangunan.
Ia juga meninggalkan luka yang tak terlihat.
Ketakutan.
Trauma.
Kecemasan akan gempa susulan yang bisa datang sewaktu-waktu.
Di tengah situasi seperti itulah kehadiran tim kesehatan menjadi sangat berarti. Mereka tidak sekadar membawa obat dan alat kesehatan, tetapi juga membawa perhatian dan kepastian bahwa masyarakat tidak sedang menghadapi bencana seorang diri.
Ketika tim akhirnya tiba di Kampung Lewur, warga menyambut mereka dengan wajah-wajah yang masih menyimpan kecemasan. Namun perlahan, kehadiran para tenaga kesehatan menghadirkan rasa tenang.
Ada keyakinan yang tumbuh bahwa mereka masih diperhatikan.
Bahwa ketika membutuhkan pertolongan, masih ada orang-orang yang bersedia menembus jalan terjal dan medan sulit untuk menemui mereka.
Bagi Dinas Kesehatan Manggarai Barat, jauhnya jarak dari fasilitas kesehatan bukan alasan untuk meninggalkan masyarakat. Justru sebaliknya.
Semakin terpencil sebuah wilayah, semakin besar alasan untuk hadir.
Karena dalam situasi pascabencana, pelayanan kesehatan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pemeriksaan dan pemberian obat. Kehadiran petugas kesehatan menjadi simbol kepedulian dan pengingat bahwa kehidupan harus terus berjalan.
Rasa takut mungkin masih ada.
Tetapi harapan tidak boleh hilang.
Itulah sebabnya perjalanan harus terus dilanjutkan, meski kendaraan sempat berhenti di tengah tanjakan. Mereka turun. Mereka mendorong. Mereka kembali bergerak.
Di sanalah pengabdian menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling nyata.
Bukan melalui pidato panjang.
Bukan pula di atas panggung.
Melainkan melalui tangan-tangan yang menempel di belakang kendaraan, mendorong bersama agar obat-obatan dan pelayanan kesehatan bisa sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dan pada hari itu, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, drh. Theresia P. Asmon, memilih berada di tengah perjuangan itu bersama timnya.
Sebuah gambaran sederhana bahwa pelayanan kepada masyarakat sering kali menuntut lebih dari sekadar menjalankan tugas. Ia membutuhkan kehadiran, kepedulian, dan kesediaan untuk berjalan bersama masyarakat, bahkan ketika jalan yang harus dilalui begitu terjal.
Perjalanan menuju Kampung Lewur akhirnya berhasil diselesaikan.
Rasa lelah terbayar ketika pelayanan kesehatan dapat diberikan kepada warga yang membutuhkan.
Di tengah ancaman gempa susulan dan ketidakpastian yang belum sepenuhnya berakhir, kehadiran tim kesehatan menjadi kekuatan tersendiri bagi masyarakat.
Mereka datang membawa obat-obatan.
Namun yang diterima warga jauh lebih besar dari itu: rasa aman, perhatian, dan keyakinan bahwa pemerintah tetap hadir bersama mereka di tengah masa-masa sulit.
Karena pada akhirnya, pelayanan kepada masyarakat memang tidak selalu berjalan di jalan yang mudah.
Kadang harus melewati tanjakan.
Kadang harus berhenti sejenak.
Kadang harus didorong bersama-sama.
Tetapi selama masih ada kemauan untuk terus bergerak, jalan menuju masyarakat yang membutuhkan pertolongan akan selalu ditemukan.












