Jejak Kemanusiaan Relawan Bangka Belitung di Bumi Flores

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo, Okebajo.com— Senin sore (7/9/2026), kabut tipis mulai turun menyelimuti perbukitan Desa Wisata Wae Lolos. Rona merah senja beradu dengan rintik gerimis yang membasahi bumi, menciptakan suasana tenang sekaligus magis. Di salah satu sudut destinasi yang dijuluki “Seribu Air Terjun” ini, sekelompok pria tampak duduk beristirahat. Wajah mereka menyiratkan kelelahan yang amat sangat, namun gurat senyum tulus tak bisa disembunyikan.

Mereka bukan wisatawan biasa. Mereka adalah Tim Relawan Gempa Flores yang menempuh perjalanan jauh dari Provinsi Bangka Belitung. Bagi sembilan karyawan PT Timah Persero Tbk yang tergabung dalam Emergency Response Group (ERG) dan diutus langsung oleh Kementerian ESDM ini, kedatangan mereka ke Wae Lolos bukanlah sekadar rekreasi melepaskan penat. Ini adalah momen jeda, sebuah tarikan napas panjang yang sangat berharga setelah sepekan penuh bergelut dengan puing-puing bangunan, trauma, dan air mata di wilayah terdampak gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Menembus Puing, Merajut Harapan

Jejak misi kemanusiaan tim ERG PT Timah bermula ketika kaki mereka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Flores. Titik awal aksi kemanusiaan ini adalah Desa Boafeo di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende. Dari sana, perjalanan berlanjut menyusuri jalanan Flores yang terkenal ekstrem: berkelok tajam, menanjak, dan diapit jurang serta tebing. Jalur Ende, Maropokot, Riung, hingga mencapai Mbai di Kabupaten Nagekeo mereka tempuh dengan satu tujuan: membantu sesama. Di sepanjang perjalanan, realitas kerusakan akibat amukan gempa menjadi pemandangan yang menyayat hati, mempertegas betapa mendesaknya bantuan mereka.

Slamet Rianto, Ketua Tim Relawan, menceritakan bahwa timnya bergerak dengan misi yang jelas dan terarah. Mereka tidak hanya datang membawa bantuan logistik, tetapi juga fokus pada tiga pilar pemulihan pascabencana yang sangat krusial: pelayanan kesehatan, trauma healing, dan perbaikan sarana pendidikan darurat.

“Kami menyadari bahwa kebutuhan masyarakat tidak hanya sebatas fisik. Mental dan semangat mereka, terutama anak-anak, juga harus dipulihkan. Karena itulah, selama seminggu penuh, fokus kegiatan kami adalah pelayanan kesehatan, trauma healing untuk anak-anak korban bencana, dan pembangunan sekolah darurat,” papar Slamet.

Dedikasi tim ini benar-benar diuji. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana yang ada, mereka mendirikan tenda-tenda kesehatan darurat. Tanpa kenal lelah, tim yang dilengkapi oleh tenaga dokter memberikan pengobatan dasar, dan membagikan obat-obatan serta vitamin, terutama bagi lansia dan anak-anak yang paling rentan terhadap penyakit pascabencana. Tak hanya itu, tim relawan juga bahu-membahu membangun ruang kelas darurat. Bermodalkan kayu seadanya, bambu, dan terpal, mereka mendirikan bangunan darurat agar kegiatan belajar mengajar anak-anak tidak terhenti total. Semangat gotong royong ini menjadi simbol bahwa di tengah duka, solidaritas antaranak bangsa tetap menyala kuat.

Wae Lolos: Kedamaian di Atas Awan untuk Sang Pejuang Kemanusiaan

Setelah sepekan penuh energi terkuras untuk misi kemanusiaan di Kabupaten Ende dan Nagekeo, tim ERG PT Timah memutuskan untuk mengambil rute pulang melalui destinasi wisata unggulan Flores. Ini adalah bentuk apresiasi tim terhadap keindahan alam Flores sekaligus momen refresing sebelum kembali ke rutinitas pekerjaan di Bangka Belitung. Sebelum mencapai Wae Lolos, mereka telah menyempatkan diri menginap semalam di Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, desa adat yang terkenal dengan rumah adat Mbaru Niang yang ikonis dan memukau.

“Tadi malam kami menginap di Wae Rebo, merasakan kearifan lokal di sana. Sore ini kami berada di Wae Lolos, dan selanjutnya kami akan menuju Labuan Bajo untuk rute kepulangan,” tutur Sebastianus Nggawa, putra asli Kabupaten Ende yang telah puluhan tahun merantau dan bekerja di Bangka Belitung. Baginya, misi ini bukan sekadar tugas perusahaan, melainkan panggilan hati untuk pulang dan membantu tanah kelahirannya yang sedang berduka.

Bagi tim relawan ini, Wae Lolos menawarkan kedamaian yang berbeda dari hiruk pikuk area bencana. Di sini, di tengah hamparan perbukitan hijau yang asri dan udara pegunungan yang sejuk, air terjun mengalir jernih, menciptakan kolam-kolam alami yang tampak menggantung di antara kabut tipis—sebuah pemandangan menakjubkan.

Kelelahan fisik akibat perjalanan panjang dan kerja keras berhari-hari seolah luntur begitu mereka menceburkan diri ke dalam kesejukan air kolam alami. Tawa lepas dan candaan renyah seakan menyatu dengan suara gemercik air jatuh dan desiran angin pegunungan. Untuk sesaat, mereka melupakan kepenatan dan beban tugas, menikmati keindahan alam Desa Wae Lolos.

Kunjungan mereka ke destinasi ini bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan sebuah bentuk apresiasi tulus terhadap keindahan alam Flores dan simbol solidaritas mendalam untuk masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari keterpurukan.

Tim Relawan Bangka Belitung membawa pulang lebih dari sekadar kenangan tentang keindahan air terjun Wae Lolos atau kemegahan Mbaru Niang Wae Rebo. Mereka membawa serta senyum tulus anak-anak Flores. Misi ini menegaskan bahwa kepedulian tidak mengenal batas wilayah. Di mana ada duka, di situ akan selalu ada tangan-tangan yang siap mengulurkan bantuan. *

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *