- Tun Siti Hasmah (Tun Dr Siti Hasmah Mohd Ali) meninggal dunia pada Senin, 28 September 2026, pukul 09.20 waktu Malaysia, di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur.
- Beliau berusia 100 tahun dan meninggalkan suami, Tun Dr Mahathir Mohamad, serta tujuh anak.
- Jenazah dibawa dari IJN ke kediaman keluarga di The Mines, Seri Kembangan, Selangor.
- Pemerintah Malaysia menetapkan pemakaman kenegaraan (Istiadat Pengebumian Pembesar Negara) bagi almarhumah.
- Semasa hidup, beliau dikenal sebagai salah satu dokter perempuan Melayu pertama dan pejuang kesehatan masyarakat pedesaan.
Malaysia kehilangan seorang tokoh yang pengaruhnya jauh melampaui perannya sebagai pendamping mantan perdana menteri. Tun Siti Hasmah berpulang pada usia 100 tahun, meninggalkan jejak panjang di dunia kedokteran, kesehatan ibu dan anak, hingga pemberdayaan perempuan desa.
Kabar duka itu dikonfirmasi putra beliau, Tan Sri Mokhzani Mahathir, kepada kantor berita Bernama. Sejak pagi, ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan.
Kronologi Wafatnya Tun Siti Hasmah
Dikonfirmasi Keluarga, Meninggal Pukul 09.20
Tun Siti Hasmah mengembuskan napas terakhir di IJN, Kuala Lumpur, pada pagi hari 28 September 2026. Berdasarkan laporan yang dikutip media Malaysia, waktu wafat tercatat pukul 09.20.
Beliau adalah istri Tun Dr Mahathir Mohamad, perdana menteri Malaysia yang pernah menjabat dua periode. Menurut unggahan di Facebook, Mahathir menyampaikan kabar itu dengan kalimat istirja, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Jenazah Dibawa ke Kediaman di The Mines
Pukul 10.48, jenazah dibawa keluar dari IJN menuju kediaman keluarga di The Mines, Seri Kembangan, Selangor. Suasana di halaman rumah sakit digambarkan hening dan penuh duka.
Tampak hadir mendampingi tiga anak almarhumah: Datin Paduka Marina Mahathir, Tan Sri Mokhzani, dan Datuk Seri Mukhriz. Aparat kepolisian dan petugas keamanan IJN berjaga di sekitar pintu masuk untuk mengatur kerumunan dan kelancaran lalu lintas, sementara awak media memantau dari luar area.
Hingga laporan awal disusun, pihak IJN belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait wafatnya pasien terkenal tersebut.
Pemakaman Kenegaraan dan Ucapan Belasungkawa
Pemerintah memberikan status Istiadat Pengebumian Pembesar Negara, yakni upacara pemakaman kenegaraan, kepada almarhumah. Rincian waktu dan lokasi pemakaman belum tercantum dalam laporan yang menjadi rujukan artikel ini.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim termasuk tokoh yang menyampaikan belasungkawa. Ucapan serupa datang dari sejumlah politisi lain, di antaranya Radzi Jidin dan Wan Rosdy Wan Ismail. Ahmad Fadhli menyebut kepergian almarhumah sebagai kehilangan besar bagi negara.
Profil Tun Siti Hasmah: Dari Klang hingga Dunia Kedokteran
Cita-cita Awalnya Justru Menjadi Wartawan
Tun Siti Hasmah lahir pada 12 Juli 1926 di Kampung Jawa, Klang, Selangor. Beliau anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, buah pernikahan Mohd Ali Taib dan Siti Khadijah Ahmad.
Menariknya, dunia medis bukan impian pertamanya. Semasa muda, beliau ingin menjadi jurnalis sebelum jalan hidup mengarahkannya ke ruang praktik dokter. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Melayu Kampung Baru, Methodist Girls School, St Mary’s School, dan Pudu English Girls School.
Satu-satunya Perempuan Melayu di King Edward VII College of Medicine
Pada 1947, beliau masuk King Edward VII College of Medicine di Singapura. Di institusi itu, beliau tercatat sebagai satu-satunya perempuan Melayu yang mendaftar pada tahun tersebut.
Studinya rampung pada Juni 1955. Capaian ini menempatkannya di barisan perempuan Melayu pertama yang berprofesi dokter, pada masa ketika bidang itu masih sangat didominasi laki-laki.
Karier dan Perjuangan di Bidang Kesehatan Masyarakat
Dari Hospital Kuala Lumpur ke Kedah
Tun Siti Hasmah memulai kariernya sebagai dokter pelatih di Hospital Kuala Lumpur pada 1955. Setahun kemudian, beliau pindah ke Kedah dan bertugas sebagai dokter perempuan di Hospital Alor Setar.
Di Kedah, kampung halaman sang suami, beliau melihat langsung tantangan layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pengalaman itu kelak membentuk arah perjuangannya.
Pada 1962, beliau diangkat sebagai pemangku penguasa medis untuk wilayah utara Kedah. Tiga tahun berselang, beliau menjadi perempuan pertama yang ditunjuk sebagai pegawai medis di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak, sekaligus memimpin Sekolah Pelatihan Kesehatan Pedesaan di Jitra.
Isu-isu yang Beliau Perjuangkan
Perhatian utamanya mencakup kesehatan ibu dan anak serta program imunisasi. Selain itu, beliau aktif mendorong pemberdayaan perempuan desa, upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba, dan peningkatan literasi orang dewasa.
Kiprahnya tidak berhenti di dalam negeri. Sumbangan pemikiran dan kerja sosial beliau kemudian merambah ke tingkat internasional.
Sisi Lain Tun Siti Hasmah: Badminton dan Gelar “Tun”
Di luar profesi medis, beliau juga dikenal sebagai atlet badminton kompetitif yang masih bertanding hingga usia 75 tahun. Kecintaannya pada olahraga ini membuat beliau kerap disebut sebagai “ibu” bagi para pemain badminton nasional.
Beliau pernah menjadi pelindung (patron) Persatuan Badminton Malaysia (BAM) dan Persatuan Tenis Kursi Roda Malaysia. Beliau juga disebut sebagai istri perdana menteri pertama yang menerima anugerah federal Seri Setia Mahkota Malaysia (SSM), yang membawa gelar “Tun”.
Warisan yang Ditinggalkan
Bagi banyak orang Malaysia, Tun Siti Hasmah adalah bukti bahwa perempuan bisa menembus profesi yang dulu tertutup, lalu memakai posisinya untuk melayani masyarakat yang jauh dari pusat kota. Dari ruang perawatan di Kedah hingga forum internasional, kiprahnya konsisten berpijak pada kesehatan dan kesejahteraan rakyat kecil.
Artikel ini akan diperbarui apabila jadwal dan lokasi pemakaman kenegaraan telah diumumkan secara resmi.
Sumber rujukan: Bernama, Sinar Harian, Malaysiakini, dan Berita Harian (laporan 28 September 2026).








