OPINI, Okebajo.com — Perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Flores kembali mendapatkan sorotan. Dalam beberapa waktu terakhir, pemberitaan mengenai agenda, pertemuan, pernyataan, hingga perkembangan perjuangan tersebut terlihat semakin gencar menghiasi ruang publik.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Justru perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Flores memang layak diketahui masyarakat. Publik berhak mengetahui sejauh mana proses perjuangan berjalan, siapa saja yang terlibat, apa argumentasi pembentukannya, bagaimana dukungan pemerintah dan masyarakat, serta seperti apa masa depan yang hendak dibangun melalui sebuah provinsi baru.
Namun, di tengah derasnya arus pemberitaan tersebut, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan:
Apakah yang sedang diperjuangkan adalah lahirnya Provinsi Kepulauan Flores, atau perlahan-lahan juga sedang dibangun pengakuan terhadap siapa yang paling layak disebut sebagai pejuang di dalamnya?
Pertanyaan ini tentu bukan tuduhan.
Ini adalah kritik sekaligus refleksi jurnalistik.
Dan sejak awal perlu ditegaskan, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengurangi niat baik, kontribusi, ataupun perjuangan P4KF dalam mendorong terbentuknya Provinsi Kepulauan Flores.
P4KF tentu memiliki posisi dan peran dalam perjuangan tersebut. Upaya menyuarakan aspirasi, membangun komunikasi, melakukan konsolidasi dan menyampaikan gagasan kepada publik merupakan bagian dari dinamika perjuangan yang patut dihargai.
Justru karena perjuangan tersebut penting, maka ruang kritik juga harus tetap terbuka.
Sebab perjuangan untuk kepentingan publik tidak boleh kebal terhadap pertanyaan publik.
Provinsi Kepulauan Flores bukanlah gagasan yang lahir kemarin sore. Perjuangan tersebut memiliki perjalanan panjang dan melibatkan banyak pihak. Ada tokoh masyarakat, akademisi, pemerintah daerah, politisi, organisasi kemasyarakatan, aktivis, serta masyarakat Flores yang dalam berbagai kesempatan ikut menyuarakan gagasan tentang pembentukan provinsi baru.
Ada yang tampil di depan.
Ada yang bekerja di belakang layar.
Ada yang namanya sering muncul di media.
Ada pula yang mungkin tidak pernah disebut, tetapi ikut menyumbangkan pikiran, tenaga, waktu dan sumber daya.
Karena itu, perjuangan sebesar ini seharusnya tetap ditempatkan sebagai perjuangan kolektif masyarakat Flores, bukan menjadi milik satu organisasi, satu kelompok, apalagi satu figur.
P4KF boleh menjadi salah satu wadah perjuangan.
Pengurusnya boleh tampil menyampaikan aspirasi.
Medianya boleh memberitakan.
Tetapi jangan sampai kendaraan perjuangan perlahan dipersepsikan sebagai pemilik dari perjuangan itu sendiri.
Sebab jalan menuju Provinsi Kepulauan Flores dibangun oleh banyak tangan.
Ketika Penulis Berita Berada di Dalam Pusaran Perjuangan
Ada hal lain yang menarik untuk dicermati.
Ketika pemberitaan mengenai perjuangan Provinsi Kepulauan Flores ditulis oleh seseorang yang juga berada di pucuk organisasi perjuangan, publik tentu memiliki hak untuk membaca berita tersebut dengan kesadaran mengenai posisi penulis.
Sekali lagi, tidak ada larangan bagi seorang pengurus organisasi untuk menulis.
Tetapi dalam perspektif jurnalistik, transparansi posisi menjadi penting.
Ketika seseorang berada sekaligus sebagai aktor perjuangan dan penulis pemberitaan mengenai perjuangan tersebut, maka batas antara pemberitaan, advokasi dan promosi organisasi menjadi sesuatu yang patut diperhatikan.
Sebab jurnalistik bukan sekadar bagaimana sebuah kegiatan terlihat besar.
Jurnalistik seharusnya membuat publik memahami persoalan secara lebih utuh.
Termasuk menghadirkan pertanyaan yang mungkin tidak nyaman bagi pihak yang sedang diperjuangkan.
Di sinilah independensi menjadi penting.
Wartawan idealnya mencari fakta, bukan mencari validasi terhadap dirinya sendiri maupun kelompok yang sedang diperjuangkannya.
Bukan karena perjuangannya salah.
Melainkan karena publik berhak mendapatkan informasi yang proporsional.
Ketika Setiap Langkah Harus Menjadi Berita
Yang kemudian menarik perhatian adalah ketika hampir setiap langkah perjuangan memperoleh panggung pemberitaan.
Pertemuan diberitakan.
Pernyataan diberitakan.
Kunjungan diberitakan.
Audiensi diberitakan.
Rencana diberitakan.
Bahkan proses yang masih berada pada tahap awal pun terkadang tampil dengan kemasan seolah-olah telah menjadi sebuah pencapaian besar.
Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan pemberitaan.
Namun, jika sebuah narasi terus-menerus berputar pada figur atau kelompok yang sama, publik tentu boleh bertanya:
Apakah masyarakat sedang diberikan informasi tentang perkembangan perjuangan, atau sedang diperkenalkan kepada seseorang yang ingin dikenang sebagai tokoh utama perjuangan?
Perbedaannya memang tipis.
Tetapi dampaknya cukup besar.
Sebab perjuangan publik seharusnya tidak berubah menjadi panggung untuk membangun legitimasi personal.
Validasi Terbesar Bukan Datang dari Media
Ada satu hal yang mungkin perlu direnungkan oleh siapa pun yang terlibat dalam perjuangan publik.
Kontribusi yang benar-benar besar pada akhirnya tidak membutuhkan terlalu banyak pengakuan.
Jika seseorang memang memiliki jasa, masyarakat akan mengetahuinya.
Jika sebuah organisasi memang memberikan kontribusi besar, sejarah akan mencatatnya.
Jika perjuangan memang berhasil, hasil akhirnya akan menjadi bukti paling kuat.
Karena itu, tidak perlu terlalu sibuk memastikan nama selalu hadir dalam setiap cerita.
Tidak perlu setiap pertemuan dijadikan ukuran keberhasilan.
Tidak perlu setiap langkah harus diberitakan agar publik tahu bahwa seseorang sedang bekerja.
Sebab terkadang, orang yang benar-benar bekerja justru tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan kepada publik bahwa dirinya sedang bekerja.
Pekerjaannya yang berbicara.
Hasilnya yang berbicara.
Masyarakat yang berbicara.
Dan sejarah yang kemudian mencatat.
Jangan Sampai Provinsinya Belum Ada, Gelar Pejuangnya Sudah Berebut Tempat
Perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Flores seharusnya membawa diskusi ke persoalan yang lebih substantif.
Publik ingin mengetahui argumentasi akademiknya.
Publik ingin mengetahui kesiapan daerah.
Publik ingin mengetahui desain pemerintahan.
Publik ingin mengetahui konsekuensi fiskalnya.
Publik ingin mengetahui manfaatnya bagi masyarakat.
Publik ingin mengetahui bagaimana aspirasi masyarakat diterjemahkan menjadi kebijakan.
Itulah pertanyaan-pertanyaan penting.
Bukan siapa yang paling banyak diberitakan.
Bukan siapa yang paling sering memberikan pernyataan.
Bukan pula siapa yang paling dahulu mengklaim berada di barisan terdepan.
Sebab jangan sampai terjadi sebuah ironi:
provinsinya belum mekar, tetapi klaim sebagai pejuang utama sudah bermekaran di mana-mana.
Kalimat ini memang terdengar satir.
Tetapi justru melalui satire terkadang kita bisa bercermin tanpa harus saling menunjuk.
Kritik Bukan Berarti Menolak Perjuangan
Penting untuk ditegaskan kembali bahwa tulisan ini bukan serangan terhadap P4KF.
Tulisan ini juga tidak bermaksud mengurungkan, mengecilkan, apalagi menghapus niat baik dan perjuangan P4KF dalam memperjuangkan Provinsi Kepulauan Flores.
Sebaliknya, kritik ini justru lahir karena isu tersebut terlalu penting jika hanya ditempatkan dalam satu perspektif.
P4KF tetap memiliki ruang untuk menjelaskan perjuangannya.
Tokoh-tokoh yang terlibat juga memiliki hak untuk menyampaikan pandangan.
Media memiliki hak untuk memberitakan.
Dan masyarakat memiliki hak untuk mengkritisi.
Ketiganya harus berjalan bersama.
Sebab perjuangan yang sehat bukan perjuangan yang hanya mau mendapatkan tepuk tangan.
Perjuangan yang sehat adalah perjuangan yang juga siap menerima pertanyaan.
Jika kritik dianggap sebagai upaya menghambat perjuangan, maka ruang demokrasi akan menjadi terlalu sempit.
Padahal Provinsi Kepulauan Flores yang hendak diperjuangkan justru membutuhkan budaya demokrasi yang sehat.
Biarkan Masyarakat dan Sejarah yang Memberikan Validasi
Pada akhirnya, pengakuan terbaik bukanlah pengakuan yang dibangun melalui banyak pemberitaan.
Bukan pula pengakuan yang terus-menerus diulang oleh orang yang bersangkutan.
Pengakuan terbaik adalah ketika masyarakat secara sukarela mengatakan:
“Ya, orang ini memang bekerja.”
Dan ketika sejarah kelak mencatat:
“Ya, mereka memang pernah berjuang.”
Itulah validasi yang tidak perlu dipaksakan.
Sebab media bisa menulis apa saja.
Tetapi media tidak bisa menulis sejarah sesuka hati.
Sejarah memiliki ruangnya sendiri untuk memilah siapa yang benar-benar bekerja, siapa yang sekadar hadir, dan siapa yang hanya sibuk memastikan dirinya terlihat hadir.
Karena itu, kepada seluruh elemen yang sedang memperjuangkan Provinsi Kepulauan Flores, termasuk P4KF, barangkali ada satu pesan sederhana:
Perjuangkan provinsinya. Perkuat kajiannya. Bangun dukungannya. Yakinkan pemerintahnya. Rangkul masyarakatnya.
Untuk urusan siapa yang paling berjasa, biarkan masyarakat yang menilai.
Dan untuk urusan siapa yang layak dikenang, biarkan sejarah yang menentukan.
Sebab Provinsi Kepulauan Flores adalah cita-cita besar masyarakat Flores. Jangan sampai cita-cita sebesar itu menjadi terlalu kecil hanya karena sibuk diperebutkan siapa yang paling pantas mendapatkan pengakuan.








