LABUAN BAJO, Okebajo.com – Derak bambu di Wae Songkang menjadi musik harapan bagi warga Kampung Lesem. Tak ada lagi wajah tegang para pelajar saat mendung menggantung di ufuk timur. Kini, kecemasan menahun itu perlahan luruh. Kecemasan berganti dengan ayunan palu dan semangat gotong royong yang memecah kesunyian hutan di Desa Golo Lajang.
Senin, 2 Februari 2026 menjadi saksi bisu sebuah janji yang dilunasi. Di pinggiran Sungai Wae Songkang yang kerap mengganas, tampak pemandangan yang menggetarkan nurani. Polisi berbaju cokelat dan TNI berseragam loreng, bahu-membahu dengan warga. Mereka memanggul batang-batang bambu demi menyambung mimpi anak-anak sekolah yang sempat terancam pupus oleh arus banjir yang deras.
Melawan Arus demi Ilmu
Bagi 21 pelajar asal Kampung Lesem, berangkat sekolah selama ini bukan sekadar berjalan kaki, melainkan sebuah aksi pertaruhan nyawa. Setiap pagi, kaki-kaki kecil mereka harus melawan debit air sungai selebar 20 meter demi mencapai ruang kelas di SDK Wetik dan SMPN 1 Kuwus Barat.
“Kami tidak ingin ada korban jiwa hanya karena mereka ingin menuntut ilmu. Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama,” tegas Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar, dengan nada yang sarat empati.
Langkah humanis ini bukan sekadar inisiatif lokal. Ini respons cepat atas mandat Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan tak ada wilayah terpencil yang tertinggal, terutama dalam urusan keselamatan akses pendidikan. Jembatan darurat ini adalah bukti nyata bahwa negara hadir, bahkan di titik koordinat paling sunyi sekalipun.
Sinergi Tanpa Sekat
Uniknya, Sungai Wae Songkang yang memisahkan Kecamatan Pacar dan Kecamatan Kuwus Barat, justru menjadi titik temu persaudaraan. Di sini, batas-batas administratif luluh oleh rasa kemanusiaan. Meski secara hukum melibatkan dua wilayah kepolisian berbeda, IPTU Arsi dan Serma Mustamin dari TNI membuktikan bahwa pengabdian tak mengenal garis batas wilayah hukum.
Sejak pukul 09.00 Wita, keringat bercucuran di tengah riuhnya warga yang mengumpulkan bambu, kayu, dan ijuk dari hutan setempat. Tanpa menunggu birokrasi anggaran yang berbelit, material lokal hasil swadaya masyarakat menjadi fondasi utama. Ada rasa kepemilikan yang kuat di setiap ikat tali yang membelit tiang jembatan tersebut.
Menuju Masa Depan
Hingga Selasa (3/2) pagi, jembatan tersebut telah mencapai tahap penyelesaian. Fokus hari ini adalah memasang alas pijakan yang kokoh, pagar pengaman yang tinggi, hingga sentuhan akhir berupa pengecatan.
“Hari ini kami fokus pada tahap finishing; agar jembatan tidak hanya kokoh, tapi juga layak dipandang,” ujar perwira yang akrab disapa Pak Arsi itu sambil memantau pengerjaan pagar pengaman.
Kendati jembatan ini sudah mulai berdiri megah, kewaspadaan tetap menjadi panglima. Di tengah cuaca ekstrem, kepolisian tetap menghimbau para siswa agar tidak memaksakan diri menyeberang jika hujan lebat turun. Keselamatan tetaplah hal yang utama.
Bagi warga Golo Lajang, jembatan ini mungkin hanya terbuat dari bambu dan ijuk. Namun, di mata anak-anak Lesem, ini adalah jembatan menuju masa depan—sebuah titian doa yang akhirnya terwujud berkat sentuhan tangan-tangan humanis yang peduli akan masa depan generasi bangsa. Bravo untukmu, Komandan !
Robert Perkasa








