Dosen Arsitektur Atma Jaya Gugur Saat Jalankan Misi Kemanusiaan di NTT, Jenazah Dipulangkan dari Labuan Bajo

Avatar photo
Dosen Arsitektur Atma Jaya Gugur Saat Jalankan Misi Kemanusiaan di NTT, Jenazah Dipulangkan dari Labuan Bajo
Peti Jenazah Gregorius saat tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo. (Foto : Tildis)
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Jenazah Gregorius Agung Setyonugroho, dosen Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dipulangkan dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (14/9/2026).

Gregorius diberangkatkan melalui Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo menuju Surabaya. Dari Surabaya, jenazah rencananya akan diberangkatkan melalui perjalanan darat menuju Yogyakarta untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Gregorius meninggal dunia setelah menjalankan misi kemanusiaan bersama relawan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di Kabupaten Manggarai Barat. Ia datang ke daerah tersebut untuk membantu melakukan pemantauan dan asesmen terhadap kerusakan bangunan warga akibat Gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7.

Kepergian dosen arsitektur tersebut meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga dan rekan-rekan sesama arsitek, tetapi juga bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang mengapresiasi dedikasinya membantu masyarakat terdampak bencana.

Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Pius Baut, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Gregorius saat menjalankan tugas kemanusiaan.

“Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berduka yang dalam atas peristiwa meninggalnya relawan dari IAI ini,” ujar Pius Baut saat dihubungi media ini, Senin (14/9/2026).

Gregorius diketahui tiba di Labuan Bajo pada Sabtu (12/9/2026) bersama tim relawan IAI. Ia kemudian menjalankan tugas di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, dengan fokus melakukan penilaian terhadap kondisi rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Namun, misi kemanusiaan tersebut berakhir tragis. Pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 16.20 WITA, Gregorius dilarikan oleh rekan-rekannya ke RSUD Komodo setelah ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Plt Direktur RSUD Komodo, Paulus Ndarung, menyampaikan bahwa Gregorius tiba di rumah sakit dalam kondisi sudah meninggal dunia.

“Ia tiba dalam kondisi Death On Arrival atau sudah meninggal dunia,” jelas Paulus Ndarung dalam laporan yang disampaikan kepada Bupati, Wakil Bupati, dan Pj Sekda Manggarai Barat.

Jenazah kemudian menjalani proses pemulasaran dan ditempatkan di ruang jenazah RSUD Komodo.

Begitu menerima kabar tersebut, Pj Sekda Pius Baut bersama sejumlah pimpinan perangkat daerah langsung mendatangi RSUD Komodo. Selain menyampaikan belasungkawa, mereka juga berkoordinasi dengan tim IAI terkait proses pemulangan jenazah ke Yogyakarta.

Salah seorang relawan IAI, Candra, yang ditemui di Bandara Internasional Komodo, membenarkan bahwa jenazah Gregorius dipulangkan pada Senin (14/9/2026).

“Rencananya dari Surabaya akan menggunakan jalur darat menuju Yogyakarta,” ujar Candra.

Menurut Candra, Gregorius selama ini dikenal tidak hanya sebagai arsitek profesional, tetapi juga sebagai tenaga pengajar di Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Keberadaannya di Manggarai Barat merupakan bagian dari keterlibatan IAI dalam membantu masyarakat terdampak bencana Gempa Flores.

Candra juga mengungkapkan bahwa Gregorius memiliki riwayat hipertensi. Setelah tiba di Tondong Belang pada Sabtu malam, Gregorius bersama rekan-rekannya bahkan sempat bekerja hingga larut malam untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan terkait asesmen kerusakan bangunan.

Meski demikian, Candra menegaskan pihaknya belum dapat memastikan penyebab meninggalnya Gregorius.

“Apakah meninggalnya karena hipertensi itu, kita tidak tahu. Yang tahu pasti pihak rumah sakit yang sempat melakukan penanganan,” katanya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, kehadiran Gregorius bersama tim IAI merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit pascagempa.

Pius Baut menyampaikan penghargaan sekaligus terima kasih atas pengorbanan Gregorius dan seluruh relawan IAI yang telah datang ke Manggarai Barat untuk membantu proses penanganan dampak bencana.

“Kami juga berterima kasih atas pengorbanan almarhum bersama Tim IAI yang membantu menangani korban bencana gempa di Manggarai Barat,” ujar Pius Baut.

Jenazah Gregorius kini telah meninggalkan Labuan Bajo. Ia pulang ke Yogyakarta bukan sekadar sebagai seorang arsitek dan dosen, tetapi sebagai relawan yang mengabdikan keahlian dan tenaganya untuk membantu warga terdampak bencana di Manggarai Barat.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *