Nama Puskesmas “Tana Mori” Dikecam KNPI Manggarai Barat

Labuan Bajo | Okebajo.com | Ketua KNPI Kabupaten Manggarai Barat, Hasanudin menegaskan mengubah nama asli Golo Mori menjadi Tana Mori sama halnya melecehkan sejarah turun-temurun masyarakat  di wilayah Golo Mori.

Pernyataan Ketua KNPI Mabar itu menyikapi fakta penulisan nama sebuah Puskesmas “Tana Mori” yang kini sudah dibangun  oleh pemerintah di wilayah Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Sebagai putra asli Golo Mori tentu saya menolak, mengutuk dan mengecam upaya mengubah nama asli Golo Mori menjadi Tana Mori. Sebab nama Golo Mori adalah nama asli yang diberikan masyarakat adat lokal terhadap lokasi itu. Ini sama halnya melacuri atau  melecehkan budaya nenek moyang kami. Saya hanya khawatir nenek moyang kami marah dan berdampak pada kejadian yang tidak kita inginkan”, tegas  Hasanudin.

Ia lantas bertanya, apa maksud dari  pemerintah mengubah sebutan dan tulisan Golo Mori menjadi Tana Mori
tanpa mempertimbangkan kearifan lokal, kultur budaya yang tumbuh kembang di tengah masyarakat setempat. Apalagi tidak meminta izin.

Menurut Hasanudin, pemerintah rupanya sengaja dan pura-pura tidak tahu, tidak menerima kritikan masyarakat terkait penulisan nama Tana Mori pada Puskesmas tersebut.

“Selaku putra asli Golo Mori dan juga sebagai Ketua KNPI Manggarai Barat, saya mengingatkan kepada pihak pengelola Dinkes Mabar yang telah mengubah nama  “Golo Mori” menjadi sebutan ‘Tana Mori” segera mencabut papan nama itu di atas Puskesmas Plus yang telah dibangun. JJikapenulisan nama  Puskesmas itu tidak diubah, kami dan seluruh tokoh muda Golo Muri akan melakukan upaya lain  dan akan terus melawan ketika harkat dan martabat kami dilecehkan oleh siapapun”, tandas Hasanudin.

Ia menyebutkan perubahan nama Golo Mori sudah beberapa kali terjadi. Namun kali ini menjadi perhatian serius.

Ia setuju nama Puskesmas  itu Puskesmas Golo Mori.

“Kami pun tetap memilih keaslian Golo Mori. Nama Tana Mori itu  melecehkan pranata sosiologis masyarakat yang sudah terpelihara sejak dahulu”, kata Hasanudin.

Tidak hanya penamaan Tana  Mori. Hasanudin pun mengingatkan semua pihak, baik para koorporasi maupun pemerintah  agar jangan sesuka hati mengubah nama tempat yang ada di Manggarai Barat.

“Bagi kami warga lokal, mereka – mereka itu tidak bedanya dengan para bandit. Datang dan pergi sesuka hati  mengubah segalanya kapan pun mereka mau. Cara-cara seperti ini tidak bedanya dengan model penjajah semi modern. Dengan uang dan kekuasaan mereka bisa mengambil segalanya dari apa yang kita miliki. Harus mematuhi dan mentaati adat istiadat masyarakat adat setempat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itu hukum adatnya. Jangan sepelekan ini”, tuturnya. *

Editor: Robert Perkasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *