Labuan Bajo, Okebajo.com – Kehadiran transportasi berbasis aplikasi seperti Grab di Labuan Bajo terus menuai perhatian publik. Paulus Ganor secara tegas menyatakan dukungannya terhadap operasional ojek online tersebut, dengan menilai bahwa keberadaan Grab justru memberikan dampak positif bagi masyarakat dan sektor pariwisata di Manggarai Barat.
Menurut Paulus, kondisi biaya hidup di Labuan Bajo saat ini tergolong tinggi, sehingga kehadiran Grab menjadi solusi yang membantu meringankan beban transportasi warga.
“Masyarakat butuh alternatif yang lebih terjangkau untuk beraktivitas. Grab hadir menjawab kebutuhan itu,” ujarnya, Minggu 26 April 2026.
Ia juga menekankan bahwa perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebagai daerah yang tengah berkembang menjadi destinasi wisata premium, Labuan Bajo dinilai perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
“Kita tidak bisa menolak kemajuan. Justru harus kita manfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan,” tambahnya.
Paulus menilai kehadiran Grab sejalan dengan upaya menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, kini terbiasa menggunakan layanan transportasi online yang menawarkan kepastian harga, keamanan, serta kemudahan pelacakan perjalanan secara real-time.
Selain itu, Grab juga dinilai mampu menjawab persoalan konektivitas, terutama dalam layanan “first mile–last mile”.
Dengan kondisi geografis Labuan Bajo yang memiliki banyak titik wisata, hotel, dan restoran yang tersebar, transportasi online menjadi solusi praktis bagi wisatawan tanpa harus menyewa kendaraan harian.
Tak hanya itu, ia menyoroti pentingnya menjaga reputasi destinasi. Keluhan wisatawan terkait tarif transportasi yang tidak transparan dinilai dapat ditekan dengan sistem harga pasti yang ditawarkan aplikasi.
Lebih lanjut, Paulus menegaskan bahwa Grab memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Ia menyebutkan bahwa sekitar 85 persen mitra pengemudi Grab di Labuan Bajo merupakan warga dari Manggarai Barat.
“Ini bukan orang luar yang datang ambil peluang. Justru masyarakat kita sendiri yang mendapat manfaat,” tegasnya.
Selain membuka lapangan kerja baru, kehadiran fitur seperti layanan pesan-antar makanan dan kebutuhan harian turut membantu pelaku UMKM memperluas pasar, termasuk menjangkau wisatawan yang memilih beraktivitas dari hotel.
Di sisi lain, Grab dinilai mampu mengisi kekosongan layanan transportasi publik yang masih terbatas, baik dari segi jangkauan maupun waktu operasional. Layanan ini juga memudahkan wisatawan yang memiliki jadwal perjalanan dini hari, seperti keberangkatan ke pelabuhan untuk wisata Komodo.
Paulus juga melihat potensi data perjalanan dari aplikasi sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menata sistem transportasi, termasuk trayek dan kebutuhan infrastruktur.
Aspek Keamanan dan Transparansi
Fitur keamanan menjadi salah satu keunggulan utama transportasi online.
Setiap perjalanan terekam secara digital, memungkinkan pengguna membagikan lokasi secara langsung kepada keluarga. Selain itu, sistem penilaian dua arah antara pengemudi dan penumpang dinilai mendorong peningkatan kualitas layanan.
Transparansi harga juga disebut mampu meminimalkan konflik antara pengguna jasa dan penyedia transportasi, karena tidak ada lagi praktik tawar-menawar yang berpotensi merugikan salah satu pihak.
Meski demikian, Paulus menegaskan bahwa kehadiran Grab tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi transportasi konvensional. Ia menilai keduanya dapat berjalan berdampingan sebagai layanan yang saling melengkapi.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk segera menyusun regulasi yang adil, termasuk pengaturan kuota pengemudi, zonasi penjemputan, serta batas tarif guna menghindari persaingan tidak sehat.
“Menyuruh Grab untuk angkat kaki berarti menolak peluang kerja dan kebutuhan wisatawan global. Yang perlu kita lakukan adalah mengatur, bukan melarang,” ujarnya.
Paulus juga mengkritik pihak-pihak yang meminta agar Grab angkat kaki dari Labuan Bajo. Menurutnya, pandangan tersebut terlalu dangkal dan tidak melihat realitas di lapangan.
“Kalau 85 persen pengemudinya adalah warga lokal, lalu siapa sebenarnya yang dirugikan?” pungkasnya.








