Menelusuri Surga Tersembunyi di Kecamatan Pacar: Dari Goa Nua Waka hingga Air Terjun Cunca Dedek Hara

Avatar photo
Menelusuri Surga Tersembunyi di Kecamatan Pacar: Dari Goa Nua Waka hingga Air Terjun Cunca Dedek Hara
Cunca Dedek Hara, sebuah air terjun yang berada di kawasan Mbelale Romang.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Nama Labuan Bajo sudah lama melekat sebagai salah satu ikon pariwisata Indonesia. Laut biru, gugusan pulau, komodo, Pulau Padar dan berbagai destinasi premium menjadikan Kabupaten Manggarai Barat sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang terus berkembang.

Namun, Manggarai Barat sesungguhnya menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar wisata bahari.

Jauh dari riuhnya kawasan wisata Labuan Bajo, di balik perbukitan dan jalan-jalan yang membelah kampung, terdapat sebuah wilayah yang perlahan mulai memperlihatkan wajah pariwisatanya.

Wilayah itu adalah Kecamatan Pacar.

Kecamatan Pacar memiliki luas sekitar 165,77 kilometer persegi dan terdiri atas 13 desa, yakni Pacar, Manong, Romang, Compang, Waka, Pong Kolong, Loha, Benteng Ndope, Golo Lajang, Golo Lajang Barat, Kombo, Kombo Selatan dan Kombo Tengah. Wilayah ini sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Macang Pacar.

Di tengah bentang alam perbukitan, lembah, sungai dan hutan, sejumlah destinasi wisata mulai dikenal. Sebagiannya bahkan telah masuk dalam pengembangan desa wisata.

Di sinilah perjalanan wisata Kecamatan Pacar menjadi menarik.

Bukan karena kemewahan fasilitasnya, tetapi karena wisatawan diajak menikmati sesuatu yang semakin sulit ditemukan di tengah perkembangan pariwisata modern: alam yang masih relatif alami dan kehidupan masyarakat desa yang berjalan dengan ritmenya sendiri.

Loha, Gerbang Petualangan di Jantung Pacar

Salah satu pintu masuk penting untuk mengenal potensi wisata Kecamatan Pacar adalah Desa Loha.

Desa ini telah dikembangkan sebagai desa wisata dan menawarkan konsep wisata yang menggabungkan alam dengan kehidupan masyarakat.

Dari Labuan Bajo, perjalanan menuju Desa Loha membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Jarak tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Perlahan, suasana perkotaan ditinggalkan dan wisatawan memasuki lanskap pedesaan Manggarai Barat.

Di Loha, wisatawan dapat menemukan salah satu objek yang paling menarik perhatian: Goa Nua Waka.

Goa ini memiliki panjang sekitar satu kilometer. Di dalamnya terdapat ruang besar yang oleh masyarakat digambarkan menyerupai rumah adat Manggarai.

Keunikan tersebut membuat perjalanan ke dalam goa bukan sekadar aktivitas menikmati keindahan alam bawah tanah.

Ada cerita yang menyertainya.

Menurut narasi yang disampaikan kelompok sadar wisata setempat, Goa Nua Waka dahulu berkaitan dengan fungsi pertahanan dalam konflik perebutan batas wilayah. Di dalam goa juga terdapat burung serta sarang walet.

Cerita semacam ini menjadi kekuatan tersendiri.

Sebab wisatawan tidak hanya melihat batu dan lorong gelap, tetapi juga diajak mengenal bagaimana masyarakat setempat memaknai ruang alam yang ada di sekitar mereka.

Sunsa Namo dan Kesegaran dari Alam

Petualangan di Desa Loha belum selesai setelah keluar dari Goa Nua Waka.

Tak jauh dari kawasan tersebut terdapat Air Terjun Sunsa Namo, yang menjadi bagian dari paket wisata Desa Wisata Loha.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 20 meter. Air yang jatuh dari tebing berpadu dengan bebatuan besar dan lingkungan yang masih alami.

Bagi wisatawan yang menyukai perjalanan petualangan, tempat seperti Sunsa Namo menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi wisata yang sudah sangat tertata.

Tidak ada kesan berada di sebuah taman wisata buatan.

Yang terdengar adalah suara air, angin dan kehidupan alam sekitar.

Di dekat air terjun juga terdapat kolam alami yang oleh masyarakat disebut Tiwu Roh. Tempat ini memiliki cerita dan kepercayaan lokal yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat setempat.

Cerita-cerita lokal seperti inilah yang seharusnya menjadi bagian dari pengembangan pariwisata Kecamatan Pacar.

Karena sebuah destinasi akan jauh lebih menarik ketika wisatawan tidak hanya mengetahui di mana tempatnya, tetapi juga mengetahui cerita di balik tempat tersebut.

Romang: Air Terjun yang Tersembunyi di Balik Perjalanan

Jika Loha menawarkan perpaduan gua dan air terjun, Desa Romang menghadirkan cerita lain.

Salah satu yang mulai dikenal adalah Cunca Dedek Hara, sebuah air terjun yang berada di kawasan Mbelale Romang.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar enam hingga sepuluh meter. Airnya mengalir melewati bebatuan besar dan membentuk kolam dengan warna air yang terlihat jernih dan kebiruan.

Namun, Cunca Dedek Hara bukan destinasi bagi wisatawan yang ingin semuanya serba instan.

Perjalanan menuju lokasi membutuhkan perjuangan.

Medan yang menantang justru menjadi bagian dari daya tariknya. Wisatawan harus melewati perjalanan yang membutuhkan kesiapan fisik dan kehati-hatian.

Dari Desa Romang, perjalanan menuju lokasi disebut membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 40 menit. Sementara dari Labuan Bajo, waktu perjalanan bisa mencapai sekitar lima jam, tergantung kondisi perjalanan dan titik keberangkatan.

Tetapi bagi pencinta alam, perjalanan panjang bukan selalu hambatan.

Justru perjalanan itulah yang membuat sebuah destinasi terasa lebih berkesan.

Ada kepuasan tersendiri ketika setelah melewati jalan yang panjang dan medan yang menantang, wisatawan akhirnya mendengar suara air terjun dari kejauhan.

Kemudian, di depan mata terbentang air yang mengalir di antara batu-batu besar.

Itulah pengalaman yang ditawarkan Cunca Dedek Hara.

Romang Tidak Hanya Memiliki Satu Destinasi

Potensi wisata Desa Romang sebenarnya tidak berhenti di Cunca Dedek Hara.

Sejumlah objek lain juga disebut memiliki daya tarik, seperti Sunsa Lombong, Sunsa Nggerngguk, Wae Melombang, Goa Roang Niki dan Goa Ropet.

Keberadaan berbagai objek dalam satu kawasan membuka peluang pengembangan wisata berbasis rute atau tourism trail.

Wisatawan tidak harus datang hanya untuk melihat satu air terjun, mengambil foto, lalu pulang.

Mereka dapat diajak menjelajah lebih jauh.

Berjalan kaki menyusuri jalur desa, menikmati bentang alam, mengunjungi gua, melihat aktivitas masyarakat dan beristirahat di kampung menjadi satu pengalaman wisata yang utuh.

Konsep seperti ini dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat karena wisatawan berpotensi tinggal lebih lama dan menggunakan lebih banyak jasa lokal.

Ketika Desa Menjadi Bagian dari Destinasi

Salah satu kekuatan Kecamatan Pacar adalah kehidupan masyarakatnya.

Di banyak tempat, pariwisata sering kali membuat masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Destinasi dibangun, wisatawan datang, tetapi manfaat ekonomi terbesar justru mengalir ke pihak lain.

Kecamatan Pacar memiliki kesempatan untuk menghindari pola tersebut.

Model desa wisata memberikan ruang kepada masyarakat untuk menjadi pelaku utama.

Masyarakat dapat terlibat sebagai pemandu, pengelola destinasi, penyedia makanan lokal, pengelola homestay, penyedia transportasi, hingga pelaku UMKM.

Pengalaman Desa Wisata Loha memperlihatkan bahwa paket wisata dapat dikelola oleh kelompok sadar wisata atau Pokdarwis dengan menggabungkan beberapa atraksi dalam satu pengalaman perjalanan.

Inilah yang membuat wisata desa berbeda dari sekadar menjual pemandangan.

Yang dijual bukan hanya air terjun.

Yang ditawarkan adalah pengalaman hidup bersama masyarakat.

Wisata Sejarah dan Budaya

Kecamatan Pacar juga memiliki potensi yang tidak kalah penting: sejarah dan budaya.

Nama-nama tempat, kampung, situs serta cerita yang diwariskan secara turun-temurun dapat menjadi bagian dari narasi pariwisata.

Goa Nua Waka merupakan contoh bagaimana sebuah ruang alam dapat memiliki cerita sejarah dalam ingatan masyarakat.

Potensi semacam ini sebenarnya dapat dikembangkan menjadi wisata interpretatif.

Wisatawan diberikan penjelasan mengenai sejarah sebuah tempat, hubungan masyarakat dengan alam, tradisi, tata kehidupan kampung serta nilai-nilai budaya yang masih bertahan.

Dengan demikian, perjalanan wisata ke Pacar tidak hanya menjadi perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan mengenal identitas masyarakat Manggarai.

Tantangan di Balik Keindahan

Namun, membicarakan potensi wisata Kecamatan Pacar tidak boleh hanya berhenti pada kata “indah”.

Ada pekerjaan besar yang harus dilakukan.

Sebagian destinasi masih membutuhkan peningkatan akses, fasilitas dasar, informasi wisata, kebersihan, keselamatan serta promosi.

Data Sistem Informasi Pariwisata Nasional, misalnya, mencatat Air Terjun Cunca Namo di Desa Loha sebagai atraksi wisata alam dan wisata petualangan. Data tersebut juga menunjukkan bahwa fasilitas dasar di lokasi masih terbatas, termasuk belum tersedianya toilet umum dan pusat informasi.

Kondisi tersebut bukan semata-mata kelemahan.

Sebaliknya, ia menunjukkan ruang yang masih sangat terbuka untuk pengembangan.

Tetapi pembangunan fasilitas harus dilakukan dengan hati-hati.

Jangan sampai keinginan mengejar jumlah wisatawan justru menghilangkan karakter alami yang menjadi alasan orang datang.

Wisata alam membutuhkan prinsip sederhana: datang untuk menikmati alam, bukan mengubah alam menjadi kota baru.

Promosi Digital Menjadi Kunci

Persoalan berikutnya adalah promosi.

Di era media sosial, destinasi yang tidak terlihat secara digital sering kali dianggap tidak ada.

Padahal, banyak wisatawan justru menemukan tempat baru melalui foto, video pendek, cerita perjalanan dan rekomendasi dari orang lain.

Kecamatan Pacar memiliki bahan promosi yang sangat kuat.

Goa yang panjang.

Air terjun tersembunyi.

Kolam alami.

Perbukitan.

Kampung.

Budaya.

Cerita masyarakat.

Semua itu dapat dikemas dalam narasi yang menarik tanpa harus berlebihan.

Pemerintah desa, Pokdarwis, komunitas anak muda dan media lokal dapat bekerja sama membuat dokumentasi yang konsisten.

Bukan hanya foto destinasi.

Tetapi juga cerita tentang orang-orang yang menjaga destinasi tersebut.

Membuka Jalur Wisata Baru Manggarai Barat

Selama ini arus wisatawan di Manggarai Barat banyak bergerak menuju kawasan Labuan Bajo dan destinasi kepulauan.

Kecamatan Pacar dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas distribusi perjalanan wisata ke wilayah daratan.

Bukan berarti Pacar harus meniru Labuan Bajo.

Justru sebaliknya.

Pacar harus menjual sesuatu yang berbeda.

Jika Labuan Bajo kuat dengan wisata laut dan pulau, Pacar dapat membangun identitas melalui wisata alam, petualangan, budaya dan kehidupan desa.

Wisatawan yang datang bukan hanya mereka yang ingin berfoto di tempat populer.

Tetapi juga wisatawan yang ingin berjalan lebih jauh, menemukan tempat yang belum ramai dan berbicara dengan masyarakat lokal.

Dari Pacar untuk Dunia

Pada akhirnya, potensi wisata Kecamatan Pacar tidak hanya terletak pada banyaknya objek yang dimiliki.

Kekuatan sebenarnya berada pada cerita yang belum selesai ditulis.

Goa Nua Waka memiliki cerita.

Sunsa Namo memiliki cerita.

Cunca Dedek Hara memiliki cerita.

Desa Romang memiliki cerita.

Loha memiliki cerita.

Dan masyarakat Pacar memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar daftar objek wisata.

Tantangannya adalah bagaimana cerita tersebut dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik tanpa menghilangkan akar budayanya.

Pembangunan jalan dan fasilitas penting.

Promosi juga penting.

Tetapi yang paling penting adalah memastikan masyarakat lokal mendapatkan tempat utama dalam perkembangan pariwisata.

Sebab ketika wisatawan datang, yang seharusnya tumbuh bukan hanya jumlah kunjungan.

Yang harus tumbuh adalah ekonomi masyarakat, kebanggaan terhadap kampung halaman dan kesadaran untuk menjaga alam.

Kecamatan Pacar mungkin belum menjadi nama yang langsung muncul ketika orang menyebut pariwisata Manggarai Barat.

Namun, justru di balik ketenangan wilayah ini terdapat potensi besar yang belum sepenuhnya dibuka.

Dari lorong gelap Goa Nua Waka, suara deras Sunsa Namo, hingga air jernih Cunca Dedek Hara di Romang, Pacar menyimpan wajah lain Manggarai Barat.

Wajah yang lebih sunyi.

Lebih alami.

Lebih dekat dengan masyarakat.

Dan mungkin, justru karena belum terlalu ramai, di sanalah wisatawan dapat menemukan sesuatu yang semakin mahal dalam dunia pariwisata modern:

pengalaman yang autentik.

Pacar tidak perlu menjadi Labuan Bajo kedua.

Pacar hanya perlu menjadi Pacar dengan segala keunikan alam, budaya dan cerita masyarakatnya sendiri.

Dari sanalah sebuah destinasi baru dapat tumbuh.

Bukan sebagai bayang-bayang destinasi lain, tetapi sebagai salah satu halaman baru dalam cerita besar pariwisata Manggarai Barat.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *