IMAPELMA ENDE Menyalakan Harapan di Panti ABK Wua Mesu, Perbukitan Ndona

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

ENDE, Okebajo.com – Matahari belum tepat di ubun-ubun perbukitan Ndona ketika rombongan mahasiswa dengan jaket organisasi kebanggaannya menyusuri jalan setapak di Dusun Pu’ukepo, Kecamatan Ndona.

Sekitar 600 meter dari akses jalan desa yang mapan, langkah mereka terhenti di sebuah bangunan sederhana. Di sana, di balik jalur pedalaman yang belum tersentuh aspal, sebuah harapan sedang dirawat dengan sisa-sisa tenaga dan cinta yang melimpah.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Itulah Panti Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Wua Mesu. Sebuah pelabuhan kecil bagi 22 anak yang seringkali terlupakan oleh deru pembangunan kota.

Panti ini bukan sekadar asrama. Itu adalah manifestasi keteguhan hati seorang Ibu Lin. Setiap hari, ia harus membelah jarak 15 kilometer antara tugasnya sebagai Kepala Sekolah SLB di pusat kota Ende dengan tanggung jawab moralnya membina anak-anak di Pu’ukepo.

Di panti yang berdiri sejak 2022 ini, ada 20 anak istimewa dan 2 anak formal yang sedang berjuang melawan keterbatasan. Dari jenjang SD hingga bangku kuliah, mereka membuktikan bahwa diagnosa medis bukanlah penghalang bagi mimpi. Namun, realita seringkali pahit: akses transportasi yang sulit dan fasilitas yang ala kadarnya menjadi menu harian yang harus mereka telan.

Kado Ulang Tahun Berupa Pengabdian

Menjelang usia ke-20 tahun pada 5 Maret mendatang, Ikatan Mahasiswa Pelajar Manggarai (IMAPELMA-ENDE) memilih untuk tidak merayakan Dies Natalis dengan pesta pora. Mereka memilih pulang ke akar kemanusiaan melalui program Abdimas (Pengabdian kepada Masyarakat).

“Organisasi ini lahir dari semangat solidaritas. Dua puluh tahun adalah waktu untuk merefleksikan kembali, apakah kehadiran kami sudah dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan?” ujar Wilhelmus Mario, Ketua IMAPELMA-Ende.

Suasana panti yang biasanya tenang seketika pecah oleh riuh rendah tawa. Tidak ada sekat antara mahasiswa dan anak-anak panti. Mereka bernyanyi, berjoget, dan larut dalam games ceria yang dirancang untuk membangkitkan kepercayaan diri.

Bantuan yang dibawa mulai dari sembako, alat tulis, hingga pakaian layak pakai, memang sangat berarti secara fisik. Namun, bagi anak-anak Wua Mesu, kehadiran para mahasiswa adalah “hadiah” yang lebih besar: sebuah pengakuan bahwa mereka ada, mereka berharga, dan mereka dicintai.

“Kehadiran adik-adik mahasiswa bukan hanya membawa bantuan materi, tapi membawa energi baru bagi anak-anak kami untuk terus bersemangat,” ungkap pimpinan panti dengan mata berkaca-kaca.

Dua jam di Panti Wua Mesu mungkin terasa singkat, namun jejak yang ditinggalkan cukup dalam. IMAPELMA Ende menyadari bahwa kunjungan ini adalah pengingat bagi publik. Akses jalan yang rusak dan sulitnya transportasi menuju panti ini adalah “pekerjaan rumah” bagi kita semua agar pendidikan luar biasa di pelosok Ende tidak terisolasi.

Bagi IMAPELMA-ENDE, usia 20 tahun adalah gerbang menuju kedewasaan sosial. Seperti nama panti itu, “Wua Mesu” yang berarti buah kasih, para mahasiswa ini pulang dengan membawa satu pelajaran berharga: bahwa pengabdian adalah perjalanan tanpa titik, selama masih ada air mata yang perlu diusap dan harapan yang perlu dinyalakan. *

(Vinsensius Jeradu, Ignasius Parlo Ngantut/Kontributor Okebajo.com)

Editor : Robert Perkasa

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *