Kades dan Lurah di Mabar Bakal Diganjar Bonus hingga Rp12 Juta, Sekolah Terdampak Gempa Masih Kekurangan Terpal

Avatar photo
Kades dan Lurah di Mabar Bakal Diganjar Bonus hingga Rp12 Juta, Sekolah Terdampak Gempa Masih Kekurangan Terpal
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Di tengah rencana Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat memberikan penghargaan atau bantuan khusus kepada kepala desa dan lurah yang dinilai berprestasi dalam penanganan bencana gempa bumi, persoalan kebutuhan dasar di lapangan ternyata masih menyisakan cerita lain.
Sejumlah sekolah terdampak gempa masih membutuhkan terpal untuk menunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) agar tetap berjalan di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.

Kondisi tersebut salah satunya disampaikan seorang guru yang bertugas di salah satu sekolah negeri di Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat. Guru yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan itu mengaku, sekolah tempatnya mengajar masih membutuhkan bantuan terpal untuk mendukung proses pembelajaran.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Karena melihat kondisi tersebut, ia berinisiatif mencari donatur secara mandiri. Salah satu upayanya dilakukan dengan membuat unggahan di media sosial Facebook pada Senin, (14/9/2026) untuk menyampaikan kondisi sekolah sekaligus membuka peluang bantuan dari masyarakat maupun pihak lain.
Namun, menurut pengakuannya, unggahan tersebut kemudian diminta untuk dihapus.

Guru tersebut mengaku mendapat telepon dari kepala sekolah ketika dalam perjalanan pulang setelah berupaya mencari donatur. Menurut informasi yang diterimanya, kepala sekolah mendapat telepon dari pihak yang disebut berasal dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat untuk meminta agar unggahan tersebut dihapus.

“Saya hanya guru biasa, membantu kami yang di sekolah karena punya rasa saling peduli. Ya mau bagaimana lagi? Begitulah mereka yang di dinas. Kita yang bawahan ini ikut-ikut saja,” ungkapnya, Senin, (14/9/2026).

Ia mengatakan, dirinya sebenarnya hanya ingin memperjuangkan kebutuhan sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan baik.
Menurutnya, unggahan di Facebook tersebut bukan dimaksudkan untuk menyudutkan pemerintah ataupun pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sekolah dan para siswa yang membutuhkan tempat belajar yang lebih layak.

Namun setelah mendapat informasi dari kepala sekolah, ia memilih menghapus unggahan tersebut.

“Apalagi sekarang postingan saya di Facebook juga barusan saya hapus karena katanya ada orang dinas yang telepon kepala sekolah untuk suruh hapus postingan tersebut. Mungkin mereka merasa terganggu atau bagaimana,” ujarnya.

Ia mengaku tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi masalah di lingkungan kerjanya. Sebagai seorang guru, ia memilih mengikuti arahan tersebut sembari menunggu perkembangan lebih lanjut.

“Karena memang kita ini bawahan, saya sudah hapus lagi postingan itu. Kalau memang nanti ada keberlanjutan setelah ini, baru saya diskusikan kembali. Untuk sementara masih adem-adem. Setelah saya hapus postingan, ya kita tahan-tahan saja dulu,” katanya.

Persoalan yang disampaikan guru tersebut menjadi gambaran bahwa kebutuhan pascagempa di Manggarai Barat tidak hanya menyangkut rumah warga, tetapi juga fasilitas pendidikan.
Sekolah-sekolah yang terdampak membutuhkan perhatian agar proses belajar mengajar tidak terganggu terlalu lama. Terpal, dalam kondisi darurat, dapat menjadi salah satu solusi sementara untuk menyediakan ruang belajar bagi siswa dan guru ketika bangunan sekolah belum sepenuhnya aman atau dapat digunakan.

Sebelumnya, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan ribuan terpal untuk masyarakat terdampak gempa.

Total 3.920 terpal telah disiapkan, terdiri dari 2.250 terpal hasil pengadaan baru dan 1.670 terpal yang sebelumnya telah tersedia di gudang. Sementara kebutuhan keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar 6.000 terpal.

Bupati memastikan masyarakat yang memenuhi syarat akan mendapatkan bantuan dan penyalurannya ditargetkan mulai dilakukan secara bertahap.
Namun, di lapangan, kebutuhan terpal ternyata juga dirasakan oleh sekolah-sekolah yang harus tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dalam situasi pascabencana.

Bonus Kades-Lurah vs Kebutuhan Sekolah

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat juga tengah menyiapkan Peraturan Bupati sebagai dasar pemberian bantuan khusus kepada kepala desa dan lurah yang dinilai telah bekerja keras selama masa tanggap darurat bencana.

Bupati Edi sebelumnya menyebut bantuan khusus tersebut merupakan bentuk apresiasi karena para kepala desa dan lurah di wilayah terdampak dinilai telah “berdarah-darah” menangani kondisi darurat di wilayah masing-masing.

Besaran bantuan yang direncanakan maksimal mencapai Rp12 juta.
Kebijakan tersebut mendapat perhatian karena pada saat yang sama masih terdapat sekolah yang membutuhkan bantuan sederhana seperti terpal untuk memastikan anak-anak tetap dapat mengikuti pembelajaran.

Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dalam memastikan bahwa proses pemulihan pascabencana menyentuh seluruh sektor, termasuk pendidikan. Sebab, pemulihan tidak hanya diukur dari seberapa cepat rumah warga diperbaiki atau bantuan disalurkan, tetapi juga dari seberapa cepat anak-anak korban bencana dapat kembali belajar dalam kondisi yang aman dan layak.

Terkait pengakuan guru tersebut mengenai adanya permintaan penghapusan unggahan di media sosial, hingga berita ini diturunkan media ini masih berupaya untuk mendapatkan keterangan resmi dari Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat mengenai alasan atau konteks permintaan tersebut. ***

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *