BBKSDA NTT Lepaskan 5 Ekor Burung dari Sangkar Perburuan Liar ke Habitat Aslinya

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Labuan Bajo | Okebajo.com – Udara sejuk di lereng Desa Wae Lolos, Manggarai Barat, pagi itu terasa berbeda. Selasa, 28 April 2026, bukan sekadar hari biasa bagi warga desa wisata tersebut. Di balik rimbunnya pepohonan yang menjadi benteng alam bagi Labuan Bajo, sebuah seremoni sunyi namun sarat makna berlangsung: lima ekor burung dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Satu ekor Delimukan Zamrud (Chalcophaps indica) dengan bulu hijau zamrud yang berkilau tertimpa cahaya matahari, serta empat ekor Tekukur Jawa (Spotted Dove), akhirnya merasakan kembali udara segar dan luasnya cakrawala dari jeruji sangkar yang sempit dan terisolasi.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Dari Perburuan Menuju Kesadaran

Kisah kelima burung ini adalah potret transformasi. Mereka bukanlah satwa yang datang dari laboratorium, melainkan penyintas dari jerat perburuan liar. Berkat pendekatan persuasif dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur, sang pemburu yang merupakan warga setempat akhirnya menyerah.

Alih-alih menyembunyikan tangkapannya, ia menyerahkan burung-burung tersebut kepada negara. Ini adalah kemenangan kecil bagi nurani, membuktikan bahwa edukasi mampu meruntuhkan kebiasaan lama yang merusak.

Sebelum pintu sangkar dibuka, tim BBKSDA NTT bersama aparat desa dan Pokdarwis Cunca Plias duduk melingkar dalam diskusi hangat. Tim gabungan yang hadir adalah Hasanuddin (UPTD KPH Wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat, Andreas Avelinus Doa (BBKSDA NTT) dan Baltasar Fodju dari Balai Gakkum Bali Nusra Seksi Labuan Bajo.

Ada tiga pesan utama yang ditekankan untuk menjaga napas panjang hutan Wae Lolos:

Pertama, Kepatuhan Hukum : Kesadaran bahwa menyerahkan satwa liar kepada pihak berwenang adalah bentuk kepatuhan terhadap negara dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati.

Kedua, Peran Ekologis : Burung bukan sekadar penghias. Mereka adalah “petani alami” yang menyebarkan benih ke seluruh pelosok hutan melalui kotorannya, memastikan regenerasi pohon terus berjalan secara gratis.

Ketiga, Ekonomi Berkelanjutan : Sebagai desa wisata yang sedang naik daun di Labuan Bajo, keasrian alam adalah modal utama. Wisatawan datang mencari suara alam, bukan hutan yang sunyi tanpa kicauan.

“Menjaga alam bukan hanya soal melarang, tapi soal memastikan warisan bagi anak cucu kita tetap utuh. Tanpa kicauan burung di hutan, Wae Lolos akan kehilangan jiwanya,”* ujar salah satu petugas dengan nada tegas namun menyentuh.

Detik-Detik Pembebasan

Setelah melalui masa observasi dan perawatan medis di Labuan Bajo untuk memastikan mereka bebas dari penyakit, burung-burung ini dinyatakan siap “pulang”.

Suasana haru menyelimuti saat melepaskannya. Begitu jemari terbuka, kepakan sayap terdengar memecah keheningan. Delimukan Zamrud yang eksotis melesat masuk ke dalam tajuk hutan, disusul Tekukur Jawa yang kembali ke habitat semaknya.

Pemilihan Wae Lolos sebagai lokasi pelepasliaran bukanlah kebetulan. Hutan yang masih terjaga dan komitmen kolektif warga untuk melarang perburuan liar menjadikannya “benteng” paling aman bagi satwa-satwa ini untuk melanjutkan hidup.

Pesan dari Hutan Wae Lolos

Aksi ini menjadi pengingat bagi seluruh wisatawan dan masyarakat bahwa Desa Wae Lolos adalah lebih dari sekadar rumah bagi satwa liar. Desa ini adalah mosaik kehidupan, di mana setiap kepakan sayap burung kecil memiliki andil besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem dunia.

Sinergi antara BBKSDA NTT dan masyarakat Wae Lolos membuktikan bahwa pariwisata dan konservasi bukanlah dua kutub yang berseberangan. Keduanya bisa berjalan beriringan dalam harmoni.

Kini, jika Anda menjejakkan kaki di jalan-jalan setapak Wae Lolos, pasanglah telinga baik-baik. Kicauan yang terdengar di balik dahan bukan lagi sekadar bunyi, melainkan simfoni kemenangan—pesan bahwa di desa ini, alam telah mendapatkan kembali suaranya.

Mari bersama menjaga alam. Karena satu kepak sayap yang kita selamatkan hari ini, adalah jaminan bagi udara segar anak cucu kita esok hari.* (Robert Perkasa, Ketua Pokdarwis Cunca Plias).

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *