Opini, Okebajo.com – Pesta demokrasi di tingkat desa merupakan momentum penting bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan dan masa depan kepemimpinan desa. Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) bukan hanya tentang memilih seorang pemimpin, tetapi juga menjadi ujian bagi kedewasaan politik dan persatuan masyarakat.
Dalam setiap proses demokrasi, perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar. Setiap warga memiliki hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan politiknya sesuai dengan hati nurani. Perbedaan tersebut justru menjadi warna dalam demokrasi yang sehat.
Namun, perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak hubungan kekeluargaan, memecah persatuan, apalagi menciptakan permusuhan di tengah masyarakat. Sebab, kehidupan masyarakat desa dibangun atas dasar kebersamaan, gotong royong, dan hubungan sosial yang sudah terjalin jauh sebelum adanya kontestasi politik.
Hari ini mungkin kita berbeda pilihan dalam Pilkades. Namun, esok kita tetap akan bertemu di kebun, di sawah, di rumah ibadah, dalam acara keluarga, pesta pernikahan, tempat berkumpul masyarakat, maupun berbagai kegiatan sosial lainnya.
Karena itu, menjaga persaudaraan jauh lebih berharga dibandingkan memenangkan perdebatan politik yang hanya melahirkan perpecahan.
Politik yang baik adalah politik yang mengedepankan etika dan penghormatan terhadap sesama. Setiap calon kepala desa dan para pendukungnya memiliki hak untuk menyampaikan visi, misi, serta program kerja kepada masyarakat. Namun, penyampaian gagasan harus dilakukan dengan cara yang santun, bermartabat, dan tanpa merendahkan atau menjatuhkan pihak lain.
Dalam era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat juga dituntut untuk semakin bijak dalam menerima berbagai informasi. Jangan mudah terpengaruh oleh kabar yang belum jelas kebenarannya, apalagi ikut menyebarkan isu yang dapat merusak keharmonisan antarwarga.
Kedewasaan politik tidak hanya terlihat saat seseorang menggunakan hak pilihnya, tetapi juga bagaimana sikapnya setelah hasil pemilihan ditetapkan. Menerima kemenangan maupun kekalahan dengan lapang dada merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati bersama.
Siapa pun yang nantinya dipercaya masyarakat menjadi kepala desa adalah pemimpin bagi seluruh warga desa, bukan hanya bagi kelompok atau pendukungnya. Tanggung jawab seorang pemimpin adalah merangkul semua pihak dan bekerja untuk kepentingan bersama.
Begitu pula bagi mereka yang belum mendapatkan kepercayaan masyarakat. Peran mereka tetap sangat penting dalam membangun desa melalui kritik, saran, dan gagasan yang konstruktif demi kemajuan bersama.
Desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki pembangunan fisik yang baik, tetapi juga desa yang mampu menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah perbedaan. Demokrasi seharusnya menjadi jalan untuk memperkuat kebersamaan, bukan menjadi penyebab lahirnya konflik dan permusuhan.
Mari kita jadikan Pilkades sebagai ruang untuk berlomba menghadirkan gagasan terbaik, bukan ajang untuk menyebarkan kebencian. Sebab, kontestasi politik akan selesai, tetapi hubungan persaudaraan antarwarga harus tetap terjaga sepanjang waktu.
Siapa pun pilihan kita, mari tetap bergandengan tangan membangun desa yang lebih maju, harmonis, dan sejahtera.
Sebab kemenangan sejati bukan hanya tentang memenangkan pemilihan, tetapi bagaimana kita mampu menjaga persatuan dan masa depan desa bersama.
“Beda pilihan itu biasa, tetapi tetap bersaudara adalah yang utama.”












