LABUAN BAJO, Okebajo.com — Ribuan umat Katolik memadati jalur perarakan Patung Bunda Maria Assumpta Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Golo Koe 2026 di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Di balik khidmatnya prosesi tersebut, terlihat pengawalan berlapis dari jajaran Polres Manggarai Barat yang memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh suasana persaudaraan.
Sejak dimulai pada 10 Juli 2026, perarakan berlangsung secara estafet melintasi puluhan paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Pengamanan dilakukan mulai dari wilayah Polsek Lembor, Polsek Kuwus, Polsek Macang Pacar, Polsek Sano Nggoang, Polsek Komodo, hingga jajaran Polres Manggarai Barat.
Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, S.I.K. mengatakan seluruh personel diterjunkan untuk menjamin keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas), sekaligus memberikan rasa aman kepada ribuan peziarah yang mengikuti prosesi.
“Kami jajaran Polres Manggarai Barat menerjunkan pengamanan penuh secara berestafet mulai dari wilayah Polsek Lembor, Polsek Kuwus, Polsek Macang Pacar, Polsek Sano Nggoang, Polsek Komodo hingga tingkat Polres Manggarai Barat. Kehadiran personel di setiap persimpangan, pusat keramaian, dan titik rawan kemacetan adalah untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan ibadah masyarakat berjalan tanpa hambatan,” ujar AKBP Christian di Labuan Bajo, Rabu (5/8) malam.
Toleransi Antarumat Beragama Menjadi Wajah Festival Golo Koe
Salah satu pemandangan yang paling menyita perhatian selama perarakan adalah kuatnya semangat toleransi antarumat beragama.
Personel Polres Manggarai Barat yang berasal dari berbagai agama—Katolik, Islam, Protestan, hingga Hindu—bertugas bersama mengamankan jalannya prosesi. Tidak hanya itu, masyarakat Muslim di sejumlah wilayah juga tampak bergotong royong membantu kelancaran perjalanan rombongan peziarah.
Bagi Kapolres, pemandangan tersebut merupakan cerminan nyata bahwa keberagaman di Manggarai Barat mampu menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat.
“Festival Golo Koe dan Perarakan Patung Bunda Maria Assumpta Nusantara ini bukan sekadar agenda religi Katolik, melainkan panggung harmoni bagi seluruh elemen masyarakat Manggarai Barat. Kami bangga melihat personel kami dari pelbagai keyakinan berdiri berdampingan mengawal prosesi ini. Begitu pula warga Muslim dan penganut agama lainnya yang turut aktif membantu. Ini adalah cerminan indahnya toleransi di Keuskupan Labuan Bajo,” ungkapnya.
Polisi Terapkan Pengamanan Humanis
Pengamanan yang dilakukan Polres Manggarai Barat tidak hanya berfokus pada aspek keamanan dan lalu lintas.
Di sejumlah titik persinggahan, personel kepolisian bahkan terlihat ikut memikul Patung Bunda Maria Assumpta Nusantara bersama para peziarah. Momen tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat karena menunjukkan kedekatan antara Polri dan warga.
“Pendekatan humanis adalah prioritas kami. Personel Polri hadir tidak hanya untuk mengatur lalu lintas, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat. Ketika anggota kami ikut serta memikul patung di tempat persinggahan, itu adalah bentuk pengabdian tulus serta empati Polri kepada dinamika spiritual warga,” tegas AKBP Christian.
Prosesi Melintasi Puluhan Paroki
Perjalanan Patung Bunda Maria Assumpta Nusantara dimulai dari Paroki St. Yosep Pekerja Lengko Cepang di Kecamatan Lembor Selatan, kemudian melintasi puluhan paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo sebelum tiba di Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo.
Prosesi selanjutnya dijadwalkan memasuki Prosesi Laut pada 14 Agustus 2026 dan akan berakhir di Gua Maria Golo Koe, sebagai puncak rangkaian Festival Golo Koe 2026.
Polres Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas
Mengakhiri keterangannya, AKBP Christian Kadang mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga situasi keamanan dan ketertiban hingga seluruh rangkaian Festival Golo Koe 2026 selesai.
Menurutnya, keberhasilan pengamanan tidak hanya menjadi tugas aparat kepolisian, tetapi juga buah dari kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga yang telah bekerja sama menjaga ketertiban. Suksesnya pengawalan ini menegaskan komitmen Polres Manggarai Barat dalam mengayomi masyarakat sekaligus memperkokoh kerukunan antarumat beragama di Bumi Komodo,” pungkasnya.












