Gempa Rusak Sekolah, Bhayangkari Nyalakan Kembali Semangat Belajar Anak-anak Manggarai Barat

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO, Okebajo.com — Gempa bumi tektonik yang mengguncang Kabupaten Manggarai Barat pada 15 Agustus 2026 meninggalkan luka yang tidak mudah dilupakan. Rumah-rumah rusak, fasilitas umum terdampak, dan aktivitas masyarakat sempat lumpuh. Di tengah reruntuhan dan rasa cemas yang masih membekas, ada satu hal yang tidak boleh ikut runtuh: mimpi anak-anak untuk meraih masa depan.

Semangat itulah yang coba kembali dinyalakan melalui aksi kemanusiaan Ketua Umum Bhayangkari Pusat, Ny. Juliati Sigit Prabowo. Bantuan berupa perlengkapan sekolah dipadukan dengan pendampingan psikososial atau trauma healing bagi para pelajar terdampak gempa.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Penyaluran bantuan dilakukan secara serentak di tiga wilayah hukum Polsek jajaran Polres Manggarai Barat, yakni Polsek Lembor, Polsek Kuwus, dan Polsek Macang Pacar, Senin (7/9/2026).

Bantuan tersebut tidak sekadar menghadirkan seragam, sepatu, tas, buku, dan alat tulis. Lebih dari itu, kehadirannya membawa pesan bahwa anak-anak korban gempa tidak berjalan sendirian.

Bencana yang terjadi pertengahan Agustus lalu turut menghantam dunia pendidikan. Sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan sehingga proses belajar mengajar harus dilakukan dalam kondisi darurat.

Namun, di tengah keterbatasan itu, para pelajar tetap berusaha membuka buku, duduk bersama teman-temannya, dan melanjutkan pelajaran. Mereka seolah ingin membuktikan bahwa gempa mungkin mampu merusak bangunan, tetapi tidak mudah mematahkan cita-cita.

Belajar di Bawah Pohon, Menjaga Mimpi Tetap Tumbuh

Potret perjuangan itu terlihat jelas di SMA Negeri 1 Lembor.

Senin pagi, tim kepolisian yang dipimpin Kapolsek Lembor, IPDA Vinsensius Hardi Bagus, S.I.P., tiba di sekolah tersebut. Kedatangan mereka disambut hangat oleh jajaran guru dan ratusan siswa.

Namun, di balik sambutan tersebut tersimpan kenyataan yang cukup memilukan.

Pemeriksaan pascagempa menunjukkan sebanyak enam Ruang Kelas Belajar (RKB) mengalami rusak berat dan empat RKB lainnya rusak ringan. Kondisi itu membuat para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara darurat di halaman sekolah, bahkan di bawah rindangnya pepohonan.

Di tempat yang seharusnya menjadi ruang kelas, pepohonan kini menjadi pelindung dari panas matahari. Buku-buku tetap dibuka, guru tetap mengajar, dan siswa tetap menyimak meski suasana jauh dari kata ideal.

“Kami menyampaikan permohonan maaf karena penjangkauan bantuan ini baru dapat dilakukan secara bertahap. Beberapa hari terakhir, seluruh personel kami difokuskan pada operasi evakuasi dan penanganan darurat warga terdampak di Lembor, Welak, dan Lembor Selatan,” ujar IPDA Vinsensius di hadapan para guru dan siswa, Senin (7/9/2026).

Ia mengatakan, bantuan perlengkapan sekolah tersebut merupakan amanah langsung dari Ketua Umum Bhayangkari Pusat sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana.

“Ibu Ketua Umum Bhayangkari Pusat mendengar dan merasakan langsung kondisi adik-adik di sini. Bantuan seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah ini disalurkan agar anak-anak kami tetap memiliki semangat dan optimisme tinggi. Bencana boleh merusak gedung sekolah, tetapi tidak boleh meruntuhkan semangat belajar kalian,” tutur IPDA Vinsensius.

Kepala SMAN 1 Lembor menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Baginya, bantuan itu sangat berarti bagi siswa yang kehilangan sebagian perlengkapan sekolah akibat gempa.

Namun, masih ada kebutuhan mendesak yang diharapkan segera mendapat perhatian, terutama tempat belajar sementara.

“Bantuan perlengkapan sekolah ini sangat berarti bagi anak-anak kami yang kehilangan alat tulis dan seragam akibat gempa. Mengingat saat ini anak-anak harus belajar di bawah pohon karena gedung sekolah rusak berat, kami sangat berharap adanya bantuan tambahan berupa tenda atau terpal darurat agar proses belajar mengajar bisa berlangsung lebih nyaman dan terlindung dari terik maupun hujan,” ungkapnya.

Tawa Anak-anak Kembali Pecah

Setelah bantuan dibagikan, suasana yang semula dipenuhi cerita tentang kerusakan dan ketakutan perlahan berubah.

Waka Polsek Lembor, Aiptu Antonius Laga, memimpin sesi trauma healing. Anak-anak diajak bernyanyi, bermain gim edukatif, dan mengikuti berbagai aktivitas untuk melepaskan ketegangan setelah melewati masa sulit akibat gempa.

Tawa pun kembali terdengar.

Wajah-wajah yang sebelumnya menyimpan kecemasan mulai dihiasi senyum. Untuk sesaat, mereka bisa melupakan rasa takut dan kembali menikmati dunia mereka sebagai anak-anak.

Di tengah situasi pascabencana, momen sederhana seperti itu menjadi sangat berarti.

Polisi Menembus Perbukitan, Antar Bantuan dari Rumah ke Rumah

Semangat serupa juga terlihat di wilayah hukum Polsek Kuwus.

Berbeda dengan Lembor, penyaluran bantuan di wilayah ini dilakukan secara mobile dengan menyambangi langsung rumah warga dan posko pengungsian.

Selama dua hari berturut-turut, Kapolsek Kuwus IPTU Arsilinus Lentar bersama personel Bhabinkamtibmas menyusuri jalur perbukitan menuju sejumlah lokasi terdampak, mulai dari Desa Golo Lewe, Desa Pangga, hingga Kampung Teno di Desa Compang Suka.

Bantuan bahkan diantarkan langsung ke anak-anak yang tinggal di posko pengungsian.

Salah satunya Helena, seorang siswi SD yang rumah keluarganya rata dengan tanah akibat gempa.

Ada pula Revanilia Atik Suwera (12), siswi kelas VII SMPN 2 Kuwus yang kini harus tinggal di Posko Pengungsian Desa Pangga.

“Kami sengaja datang langsung ke rumah-rumah warga dan posko pengungsian untuk memastikan bahwa bantuan perlengkapan sekolah dari Ibu Ketua Umum Bhayangkari Pusat benar-benar sampai ke tangan anak-anak yang paling membutuhkan dan paling terdampak,” tegas IPTU Arsilinus saat berada di Posko Pengungsian Desa Pangga.

Tidak hanya menyerahkan seragam, sepatu, tas, dan alat tulis, personel kepolisian juga memberikan pendampingan singkat serta edukasi mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa susulan.

“Kami ingatkan kepada adik-adik agar tidak panik apabila terjadi gempa susulan. Yang terpenting adalah tahu langkah menyelamatkan diri dan tetap semangat belajar. Bencana boleh merusak bangunan, tetapi tidak boleh merusak mimpi anak-anak kita,” imbaunya.

42 Seragam dan Sepatu Disalurkan di Macang Pacar

Sementara itu, di wilayah hukum Polsek Macang Pacar, penyaluran bantuan dipusatkan di Mako Polsek Macang Pacar.

Sebanyak 42 stel seragam sekolah, 42 pasang sepatu, serta 30 paket tas dan alat tulis lengkap diserahkan secara simbolis kepada para kepala sekolah.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi siswa dari SMAN 1 Macang Pacar, SMPN 1 Macang Pacar, SDK Bari, dan MIN 2 Manggarai Barat.

Selanjutnya, bantuan tersebut akan diteruskan kepada para siswa yang menjadi penerima manfaat.

Bagi anak-anak korban bencana, sebuah tas baru, sepasang sepatu, atau seragam sekolah mungkin terlihat sederhana. Tetapi dalam situasi pascagempa, benda-benda tersebut dapat menjadi penyemangat untuk kembali bersekolah dan menata masa depan.

Polri Pastikan Pemulihan Tidak Berhenti pada Bantuan

Secara keseluruhan, bantuan dari Ketua Umum Bhayangkari Pusat, Ny. Juliati Sigit Prabowo, yang disalurkan di Manggarai Barat mencakup ratusan stel seragam sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA, sepatu sekolah, serta paket tas yang berisi buku tulis, buku gambar, botol minum atau tumbler, dan perlengkapan alat tulis.

Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, S.I.K., menegaskan bahwa perhatian terhadap anak-anak korban gempa tidak akan berhenti setelah bantuan diserahkan.

Menurutnya, pemulihan pascabencana harus menyentuh dua sisi sekaligus, yakni pemulihan fisik dan mental.

“Kehadiran Polri di lapangan bukan sekadar menjaga keamanan dan ketertiban, melainkan hadir sebagai pelindung, pengayom, dan sahabat masyarakat dalam kondisi terpuruk sekalipun. Kami akan terus mendampingi anak-anak kita hingga trauma mereka benar-benar sembuh,” kata AKBP Christian saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026) malam.

Ia menambahkan, Polsek Lembor telah diarahkan untuk berkoordinasi secara intensif dengan BPBD Kabupaten Manggarai Barat dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PKO) untuk mengupayakan fasilitas tenda kelas darurat bagi SMAN 1 Lembor.

“Menurut kami, penanganan pascabencana memerlukan langkah kolaboratif dan berkesinambungan. Kami sudah menginstruksikan jajaran untuk terus berkoordinasi dengan BPBD dan Dinas Pendidikan agar kebutuhan tenda darurat di SMAN 1 Lembor dapat segera terwujud,” jelasnya.

“Sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan elemen masyarakat akan terus diperkuat demi memastikan masa depan pendidikan anak-anak Manggarai Barat tetap terjaga,” pungkas AKBP Christian.

Di tengah sekolah yang belum sepenuhnya pulih, anak-anak Manggarai Barat kembali membuka buku mereka.

Sebagian belajar di ruang yang tersisa. Sebagian lainnya masih harus duduk di bawah pohon atau di tenda darurat. Namun, selama masih ada guru yang mengajar, orang tua yang mendukung, dan tangan-tangan kemanusiaan yang membantu, mimpi mereka untuk meraih masa depan tidak akan ikut runtuh bersama bangunan yang diguncang gempa.

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *