Warga Mbeliling Desak Pembangunan Jembatan Wae Damar: “Jangan Tunggu Korban Lagi!”

Tulisan singkat ini mengangkat perspektif warga dan urgensi pembangunan infrastruktur pasca-insiden tersebut.

Avatar photo
Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

LABUAN BAJO – Okebajo.com – Selamatnya Bertiana Hadia (50) dari amukan banjir Kali Wae Damar pada Selasa malam disyukuri sebagai sebuah mukjizat oleh warga Kampung Nobo. Namun, di balik rasa syukur itu, terselip kegeraman dan tuntutan lama yang kembali mencuat tentang urgensi pembangunan Jembatan Wae Damar.

Kejadian nahas yang nyaris merenggut nyawa ibu rumah tangga tersebut dinilai warga sebagai “buah” dari terabaikannya infrastruktur dasar di wilayah Desa Tondong Belang.

Iklan tidak ditampilkan untuk Anda.

Mus Suasa, warga Desa Tondong Belang, menegaskan bahwa faktor utama penyebab terseretnya warga Dusun Watu Letang tersebut adalah ketiadaan jembatan yang layak.

Menurutnya, Kali Wae Damar bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi mobilitas warga.

“Jika ada jembatan, mungkin peristiwa nahas itu tak akan terjadi,” ungkap Mus dengan nada prihatin.

Ia menjelaskan bahwa jalur tersebut merupakan akses utama bagi para petani dari Kampung Nobo menuju lahan persawahan mereka.

Tak hanya bagi petani, jalur ini adalah rute harian bagi para guru dan siswa menuju SDN Lengkong Belang, serta akses penghubung penting menuju Kampung Mbore, Warsawe, dan Mamis.

Akses Pendidikan, Kesehatan, dan Rohani yang Terhambat

Kawasan di sekitar Wae Damar sebenarnya memiliki infrastruktur sosial yang lengkap, mulai dari fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga tempat ibadah seperti Stasi Mbore. Jalur ini juga kerap dilintasi oleh Pastor Paroki Wangkung dalam menjalankan pelayanan umat dari Wangkung maupun Warsawe.

Namun sayang, potensi mobilitas ini lumpuh seketika saat musim hujan tiba. Warga terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi derasnya arus atau memilih memutar jauh karena tidak adanya jembatan.

“Jalur itu sekarang jarang dilintasi warga saat musim hujan karena sangat berisiko. Padahal ini adalah jalan alternatif tercepat untuk mempercepat mobilitas warga antar-kampung,” tambah Mus.

Sentilan untuk Pemerintah: “Jangan Tunggu Korban Baru Beraksi

Trauma atas kejadian yang menimpa Bertiana Hadia memicu desakan keras agar Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat segera membuka mata. Warga meminta agar pembangunan jembatan tidak lagi sekadar menjadi wacana di meja rapat, melainkan aksi nyata di lapangan.

Mus Suasa mengingatkan pemerintah agar lebih proaktif dalam mitigasi bencana melalui pembangunan infrastruktur, bukan sekadar bereaksi setelah jatuh korban.

“Jangan tunggu ada korban baru ada aksi. Jangan tunggu longsor baru cari jalan keluar. Cari jalan keluar sebelum kejadian, itu yang kami harapkan,” tegasnya menutup pembicaraan.

Kini, warga Mbeliling hanya bisa berharap agar suara mereka sampai ke telinga pengambil kebijakan, sehingga tidak ada lagi “Bertiana” lain yang harus bertaruh nyawa di bawah derasnya arus Wae Damar. *(Robert Perkasa)

Oke Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *